Lembaga Kemanusiaan Bahas Nasib Pengungsi Rohingya di Aceh

Minggu, 28 Juni 2020 - 14:30 WIB
"Suplai makanan bagi pengungsi juga belum ada yang menangani. Pemerintah pun khawatir persoalan ini jika dibiarkan berlarut akan menjadi dampak yang buruk bagi pengungsi,” kata Thariq.(Baca juga: Kobarkan Semangat Bersedekah lewat ACT Fest 2020 )

ACT sebagai salah satu lembaga yang hadir pada malam itu, mengambil peran untuk menyediakan makanan pokok para pengungsi melalui dapur umum. Rencananya dapur umum ACT akan aktif Sabtu 27 Juni 2020 siang dan akan berjalan selama 30 hari ke depan.

Skema pemberdayaan akan dijalankan dalam program ini. ACT akan membeli bahan-bahan makanan dari masyarakat setempat sehingga tidak hanya kebutuhan para pengungsi yang terpenuhi, tetapi ekonomi masyarakat juga dapat berjalan.

“ACT berinisiatif mengambil peran untuk memenuhi kebutuhan makan para korban konflik kemanusiaan ini selama 30 hari ke depan. Berkaitan dengan produksi makanan, kita memakai skema memberdayakan masyarakat. Rencananya bahan-bahan makanan akan kita order dari masyarakat sekitar. Harapannya dengan skema ini, ekonomi sekitar pengungsian bisa bergulir juga,” tutur Thariq dikutip dari ICT News.

Pada Rabu 24 Juni 2020, sebuah kapal terombang-ambing di perairan Aceh Utara. Kapal itu membawa 94 warga etnis Rohingya di Myanmar dengan rincian 15 laki-laki dewasa, 49 perempuan dewasa, dan 30 anak-anak.
(dam)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!