Sejarah Perang Padri, Taktik Licik Kolonialisme Belanda untuk Kuasai Minangkabau

Senin, 25 Juli 2022 - 16:24 WIB
Dikutip dari laman Cagar Budaya Kemdikbud, pemicu konflik ini didasari keinginan kalangan pemimpin ulama di kerajaan Pagaruyung untuk menerapkan dan menjalankan syariat Islam yang berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah Saw.

Setelahnya, para pemuka agama tersebut mengajak Yang Dipertuan Pagaruyung beserta kaum adat untuk meninggalkan kebiasaan-kebiasaannya yang tidak sesuai syariat Islam. Sayangnya, dalam beberapa pertemuan antara kedua kelompok ini tidak tercapai kata sepakat.

Alhasil, Kerajaan Pagaruyung mulai bergejolak. Kaum Padri dibawah pimpinan Tuanku Pasaman menyerang Pagaruyung pada tahun 1815 dan pecahlah pertempuran di Koto Tangah dekat Batu Sangkar. Dalam serangan ini, Sultan Arifin Muningsyah terpaksa melarikan diri dari ibukota kerajaan ke Lubuk Jambi.

Terdesak oleh Kaum Padri, Pada 21 Februari 1821, kaum Adat bekerja sama dengan Belanda dalam perjanjian yang ditandatangani di Padang. Sebagai bentuk kompensasi, Belanda akan mendapat hak akses dan penguasaan atas wilayah darek (pedalaman Minangkabau).

Baca : Ratusan Peluru Meriam Diduga Peninggalan Tuanku Imam Bonjol Ditemukan
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!