Menakar Implementasi MyPertamina

Jum'at, 15 Juli 2022 - 10:46 WIB
Penekanan kata “serius” dalam hal ini penting mengingat pemerintah sudah sering mengumumkan banyak program pembatasan terhadap transaksi BBM bersubsidi namun pada akhirnya setelah terjadi kegaduhan sesaat isu pembatasan tersebut kenmudian hilang dengan sendirinya. Sebagaimana diketahui masyarakat seringkali disuguhi hal yang hanya bersifat “retorika” atau gimik saja. Misalnya, publik masih ingat uji coba dan rencana penggunaan RFID, yakni alat pembayaran nontunai (cashless) untuk memantau dan membatasi transaksi atas BBM bersubsidi. Namun faktanya hingga saat ini RFID juga tidak pernah dijadikan dasar rujukan pengisian BBM bersubsidi.

Jika nantinya aplikasi MyPertamina resmi dipergunakan sebagai dasar untuk pengisian BBM bersubsidi maka pemerintah harus mempertimbangkan dampak sosial ekonomi yang ditimbulkan. Sekurang-kurangnya ada lima kendala yang harus diselesaikan: pertama, persoalan dari kepemilikan smartphone beserta penggunaannya. Kedua adalah service level (tingkat kepuasan) dari aplikasi MyPertamina itu sendiri. Ketiga, adalah persoalan sinkronisasi data pribadi dan data kendaraan, keempat adalah penyediaan sarana dan prasarana pendukung, dan kelima adalah persoalan perlindungan data pribadi.

Potensi Kendala My Pertamina

Persoalan pertama yang perlu dipertimbangkan dalam penggunaan MyPertamina sebagai sarana pengisian BBM bersubsidi adalah kepemilikan smartphone. Sebagaimana diketahui BBM bersubsidi pada umumnya akan dipergunakan oleh masyarakat kalangan menengah dan ke bawah, artinya jika ponsel cerdas menjadi syarat bagi penggunaan aplikasi MyPertamina maka hal itu akan menjadi tambahan beban bagi masyarakat karena belum tentu semua warga negara memiliki ponsel cerdas, khususnya mereka yang berdomisili di luar Pulau Jawa. Bagi sebagian warga ponsel cerdas masih menjadi barang mewah, khususnya bagi masyarakat golongan kurang mampu (pra sejahtera).

Parsons (1970), seorang pakar sosiologi hukum menjelaskan jika suatu kebijakan justru menimbulkan beban sosial-ekonomi bagi masyarakat maka sejatinya kebijakan tersebut kontraproduktif bagi masyarakat itu sendiri atau justru menguntungkan pihak tertentu. Misalnya dalam hal ini dapat dibaca kebijakan ini justru berkorelasi positif dengan upaya penjualan ponsel cerdas. Artinya, persoalan sosial-ekonomi yang dapat timbul dari syarat kepemilikan ponsel cerdas tersebut perlu dikaji masak-masak sebelum kebijakan pengisian BBM bersubsidi dengan MyPertamina tersebut diterapkan secara efektif.

Persoalan kedua adalah service level dalam penggunaan MyPertamina, artinya perlu dievaluasi reliabilitas dari aplikasi tersebut, apakah cukup mudah dipergunakan (user friendly) bagi konsumen dan karenanya akan sangat membantu pengawasan penggunaan BBM bersubsidi sebagaimana semangat peluncuran aplikasi itu sendiri.

Jika ternyata aplikasi MyPertamina sulit dipergunakan (tidak user friendly) bagi konsumen atau banyak menimbulkan kendala dalam penggunaannya maka sebaiknya aplikasi tersebut tidak perlu dipaksakan untuk diteruskan. Hal ini mengingat MyPertamina sebagai sarana transaksi BBM bersubsidi yang merupakan kebutuhan penting bagi masyarakat. Artinya, jika layanan MyPertamina tidak cukup adequate maka kebutuhan vital masyarakat akan terganggu dan jika itu terjadi maka akan berdampak pada sektor lainnya, semisal transportasi maupun sektor riil lainnya. Sehingga implementasi MyPertamina perlu kecermatan dengan didukung kajian empiris yang cukup.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!