Atasi Kerusakan Lingkungan, Indonesia Diingatkan Tekan Sampah Plastik

Selasa, 31 Mei 2022 - 20:57 WIB
Perwakilan Uni Eropa untuk Indonesia, Seth Van Doorn mengatakan sistem pengolahan sampah belum cukup efektif menekan volume sampah plastik di perairan laut. Foto/ANTARA
JAKARTA - Sistem pengolahan sampah belum cukup efektif menekan volume sampah plastik di perairan laut. Hal ini dikatakan oleh perwakilan Uni Eropa untuk Indonesia, Seth Van Doorn, Selasa (31/5/2022).

"Sampah plastik di perairan laut merupakan salah satu ancaman lingkungan terbesar dunia," ujar Seth Van Doorn dalam sesi Dialog Nasional Pengurangan Sampah oleh Produsen di Jakarta. Baca juga: Bakar Sampah Sembarangan, Warga Kebagusan Didenda Rp500.000



"Sekitar 60-90% dari sampah yang tercecer di laut adalah sampah plastik, utamanya sedotan plastik, minuman gelas dan kantong plastik," sambungnya.

Menurut Van Doorn, sampah plastik di laut meningkat seiring tahun akibat urbanisasi, pembangunan dan perubahan pola konsumsi, dan produksi. Sampah ini ancaman serius pada ekosistem laut, bisnis perikanan, kesehatan publik, dan juga sektor turisme.

Di Indonesia, sampah air minum kemasan gelas dan botol termasuk yang berkontribusi signifikan pada polusi sampah plastik di laut. Data yang diolah berbagai sumber menunjukkan produksi air minum kemasan gelas mencapai 10,4 miliar kemasan gelas setiap tahunnya.

Hal ini dengan timbulan sampah 46 ribu ton, atau hampir sepertiga dari total timbulan sampah industri air kemasan bermerek. Jumlah timbulan sampah itu belum menghitung timbulan sampah sedotan plastik, 'komplemen' dalam penjualan air minum gelas yang notabene lebih mudah tercecer di lingkungan.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!