Refleksi Hari Kebangkitan Nasional: Bangkit dari Residu Kemanusiaan
Kamis, 19 Mei 2022 - 09:55 WIB
Residu Kemanusiaan
Kebangkitan yang disuarakan melalui tema Harkitnas “Ayo Bangkit Bersama” harus kita maknai pada setiap lini kehidupan. Kiranya terdapat satu hal yang patut menjadi perhatian bersama yakni trajektori kehidupan sosial-keagamaan. Tahun politik 2024 dalam kontestasi pemilihan Presiden (pilpres) sudah terasa saat ini. Politik identitas mulai mengeras dan bahkan berujung pada ideologi kebencian. Berbagai konten provokatif beredar di media sosial. Polarisasi mulai nampak mewarnai para pendukung untuk meraih kemenangan elektoral. Realitas ini perlu menjadi catatan bersama sekaligus kekhawatiran akan efek lanjut terhadap lahirnya konflik dan segregasi sosial.
Sementara tantangan keberagamaan saat ini dihadapkan pada realitas kepungan mentalitas yang sempit yang menggiring pada problem keadaban publik. Hal itu diperparah oleh merebaknya berita hoaks yang didukung oleh ujaran kebencian.
Jimly Asshiddiqie telah mengingatkan bahwa meningkatnya berita bohong dan ujaran kebencian di media sosial telah mendorong pada peningkatan radikalisme di Indonesia. Lebih jauh, cara beragama yang mengedepankan aksi-aksi vigilante juga menjadi catatan merah trajektori kemanusiaan. Ketidaksukaan terhadap kelompok lain, penghinaan dan kegemaran pada kekerasan, serta menolak toleransi karena dianggap sebagai penanda kelemahan dan ambiguitas, menjadi ciri utama dari residu kemanusiaan yang dapat menjadi pelatuk sentimen rasial dan konflik politik.
Fakta inilah yang harus kita carikan solusi bersama. Kebangkitan pada momen Harkitnas harus mampu menaikkan level kedewasaan dengan membersihkan residu ampas kemanusiaan yang dipenuhi dengan keserakahan, kepongahan, dan bahkan kebencian terhadap liyan (others).
Hal itu dapat dilihat bagaimana sebagian kelompok memosisikan sebagai wakil Tuhan dengan merampas hak-hak Tuhan dan kemudian menunggalkan absolutisme keagamaan. Pemahaman kelompoknya dianggap sebagai pemahaman yang paling benar. Sementara pemahaman atau pendapat orang lain dianggap salah. Pembelaan terhadap kelompoknya tidak didasarkan pada basis kebenaran, namun lebih mendekati kepentingan pragmatis-subjektif.
Pendekatan kehidupan yang dikembangkan adalah tafsir berkaca mata kuda, hitam-putih, halal-haram, salah-benar, tanpa memperimbangkan pelbagai aspek dan kondisi lainnya. Kampanya yang terjadi adalah menolak kebinekaan bangsa serta membenturkan antara nasionalisme dan agama.
Kebangkitan yang disuarakan melalui tema Harkitnas “Ayo Bangkit Bersama” harus kita maknai pada setiap lini kehidupan. Kiranya terdapat satu hal yang patut menjadi perhatian bersama yakni trajektori kehidupan sosial-keagamaan. Tahun politik 2024 dalam kontestasi pemilihan Presiden (pilpres) sudah terasa saat ini. Politik identitas mulai mengeras dan bahkan berujung pada ideologi kebencian. Berbagai konten provokatif beredar di media sosial. Polarisasi mulai nampak mewarnai para pendukung untuk meraih kemenangan elektoral. Realitas ini perlu menjadi catatan bersama sekaligus kekhawatiran akan efek lanjut terhadap lahirnya konflik dan segregasi sosial.
Sementara tantangan keberagamaan saat ini dihadapkan pada realitas kepungan mentalitas yang sempit yang menggiring pada problem keadaban publik. Hal itu diperparah oleh merebaknya berita hoaks yang didukung oleh ujaran kebencian.
Jimly Asshiddiqie telah mengingatkan bahwa meningkatnya berita bohong dan ujaran kebencian di media sosial telah mendorong pada peningkatan radikalisme di Indonesia. Lebih jauh, cara beragama yang mengedepankan aksi-aksi vigilante juga menjadi catatan merah trajektori kemanusiaan. Ketidaksukaan terhadap kelompok lain, penghinaan dan kegemaran pada kekerasan, serta menolak toleransi karena dianggap sebagai penanda kelemahan dan ambiguitas, menjadi ciri utama dari residu kemanusiaan yang dapat menjadi pelatuk sentimen rasial dan konflik politik.
Fakta inilah yang harus kita carikan solusi bersama. Kebangkitan pada momen Harkitnas harus mampu menaikkan level kedewasaan dengan membersihkan residu ampas kemanusiaan yang dipenuhi dengan keserakahan, kepongahan, dan bahkan kebencian terhadap liyan (others).
Hal itu dapat dilihat bagaimana sebagian kelompok memosisikan sebagai wakil Tuhan dengan merampas hak-hak Tuhan dan kemudian menunggalkan absolutisme keagamaan. Pemahaman kelompoknya dianggap sebagai pemahaman yang paling benar. Sementara pemahaman atau pendapat orang lain dianggap salah. Pembelaan terhadap kelompoknya tidak didasarkan pada basis kebenaran, namun lebih mendekati kepentingan pragmatis-subjektif.
Pendekatan kehidupan yang dikembangkan adalah tafsir berkaca mata kuda, hitam-putih, halal-haram, salah-benar, tanpa memperimbangkan pelbagai aspek dan kondisi lainnya. Kampanya yang terjadi adalah menolak kebinekaan bangsa serta membenturkan antara nasionalisme dan agama.
Lihat Juga :