70% Temuan Positif Corona Awalnya Dirasakan sebagai Gejala Remeh
Senin, 22 Juni 2020 - 05:08 WIB
Memang, Yuri mengakui bahwa untuk mengonfirmasi seseorang positif atau tidak membutuhkan proses yang tidak sederhana. Uji sampel yang direkomendasikan WHO yaitu pemeriksaan antigen menggunakan real time Polymerase Chain Reaction (PCR) atau Tes Cepat Molekuler (TCM).
(Baca: Rapid Test Harus Bayar, KH Cholil Nafis: Kemana Uang Triliunan Rupiah Itu?)
PCR pun bisa membutuhkan satu sampai tiga specimen yang diambil dari sampel swab. “Ada satu orang dengan tiga spesimen, dengan dua spesimen,” ungkap Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan itu.
Hasil uji spesimen akan diverifikasi untuk memastikan kasus baru atau kasus lanjutan. Dari verifikasi tersebut, kata Yuri kemudian akan diberi nomor registrasi dan dilaporkan ke WHO sekaligus sebagai acuan titik tracing.
(Baca: Rapid Test Harus Bayar, KH Cholil Nafis: Kemana Uang Triliunan Rupiah Itu?)
PCR pun bisa membutuhkan satu sampai tiga specimen yang diambil dari sampel swab. “Ada satu orang dengan tiga spesimen, dengan dua spesimen,” ungkap Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Kementerian Kesehatan itu.
Hasil uji spesimen akan diverifikasi untuk memastikan kasus baru atau kasus lanjutan. Dari verifikasi tersebut, kata Yuri kemudian akan diberi nomor registrasi dan dilaporkan ke WHO sekaligus sebagai acuan titik tracing.
(muh)
Lihat Juga :