Jadikan Mudik Momentum Bangkit dari Pandemi
Rabu, 20 April 2022 - 14:43 WIB
Namun demikian, pada saat yang sama, sejatinya mudik tahun ini juga menghadirkan tantangan tersendiri. Tantangan besar ini bukan soal teknis pengaturan lalu lintas yang selalu menjadi perhatian utama, namun justru risiko melonjaknya kasus sebaran Covid-19 yang tak henti mengintai.
Pemerintah sah-sah saja merasa lega karena secara statistik, tren kasus baru Covid-19, keterisian tempat tidur di rumah sakit (BOR) atau kematian menunjukkan data yang terus menurun dalam beberapa pekan terakhir. Namun data itu sejatinya masih labil. Artinya, kasus baru sangat mungkin bisa naik drastis dalam tempo cepat jika semua abai dan tak waspada.
Kita tahuh, di saat Indonesia kian melakukan pelonggaran aktivitas warga, pada saat yang sama ada beberapa negara lain yang tengah berjibaku mengatasi pandemi ini, seperti China dan Amerika Serikat. Bahkan di Sanghai, aturan pembatasan ketat (lockdown) saat ini masih diberlakukan karena munculnya kasus kematian. Ini artinya, virus korona belum benar-benar lenyap.
Tentu semuanya tidak ingin mimpi buruk pengetatan aktivitas warga seperti pembatasan sosial berskala besar (PSBB), pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) atau apapun istilahnya kembali diberlakukan lagi. Berangkat dari pengalaman pahit bangsa ini dalam menghadapi pandemi tersebut, maka mudik Lebaran 2022 harus menjadi momentum untuk saling menguatkan, bukan ajang melemahkan.
Komitmen ini tentu tidak enteng. Pemerintah sendiri selain sibuk merekayasa lalu lintas mudik, juga telah mengatur rinci bagaimana masyarakat berinteraksi saat Ramadan hingga Lebaran. Agar terhindar dari potensi terpapar Covid-19 misalnya, program vaksinasi booster tak henti digencarkan. Bahkan Presiden Joko Widodo pun mewanti-wanti agar ketika masyarakat menggelar halal bi halal berskala besar, maka acara makan dan minum diminta ditiadakan.
Pemerintah sah-sah saja merasa lega karena secara statistik, tren kasus baru Covid-19, keterisian tempat tidur di rumah sakit (BOR) atau kematian menunjukkan data yang terus menurun dalam beberapa pekan terakhir. Namun data itu sejatinya masih labil. Artinya, kasus baru sangat mungkin bisa naik drastis dalam tempo cepat jika semua abai dan tak waspada.
Kita tahuh, di saat Indonesia kian melakukan pelonggaran aktivitas warga, pada saat yang sama ada beberapa negara lain yang tengah berjibaku mengatasi pandemi ini, seperti China dan Amerika Serikat. Bahkan di Sanghai, aturan pembatasan ketat (lockdown) saat ini masih diberlakukan karena munculnya kasus kematian. Ini artinya, virus korona belum benar-benar lenyap.
Tentu semuanya tidak ingin mimpi buruk pengetatan aktivitas warga seperti pembatasan sosial berskala besar (PSBB), pemberlakuan pembatasan kegiatan masyarakat (PPKM) atau apapun istilahnya kembali diberlakukan lagi. Berangkat dari pengalaman pahit bangsa ini dalam menghadapi pandemi tersebut, maka mudik Lebaran 2022 harus menjadi momentum untuk saling menguatkan, bukan ajang melemahkan.
Komitmen ini tentu tidak enteng. Pemerintah sendiri selain sibuk merekayasa lalu lintas mudik, juga telah mengatur rinci bagaimana masyarakat berinteraksi saat Ramadan hingga Lebaran. Agar terhindar dari potensi terpapar Covid-19 misalnya, program vaksinasi booster tak henti digencarkan. Bahkan Presiden Joko Widodo pun mewanti-wanti agar ketika masyarakat menggelar halal bi halal berskala besar, maka acara makan dan minum diminta ditiadakan.
Lihat Juga :