Haji Tahun Ini Butuh Kerja Keras dan Tuntas
Rabu, 13 April 2022 - 14:22 WIB
Saudi sebelumnya memang telah memberi batasan calon jamaah yang diizinkan ikut berhaji, yakni maksimal 65 tahun serta wajib tes swab PCR dengan hasil negatif yang dilakukan kurang dari 72 jam sejak keberangkatan ke Saudi. Namun, secara teknis aturan ini perlu diatur lagi lebih detail. Misalnya apakah 65 tahun itu dihitung kala berangkat dari Indonesia atau setiba di Saudi. Ini menjadi persoalan kompleks, lebih-lebih Kemenag nanti pasti dituntut melakukan seleksi ketat karena jumlah pengantre haji juga telah mencapai jutaan.
Pertemuan antara Dirjen PHU Kemenag Hilam Latief dengan Forum Silaturahmi Asosisasi Haji dan Umrah (Forum SHATU) baru-baru ini antara lain menghasilkan harapan agar kuota Indonesia bisa berjumlah 100.000. Bahkan perwakilan forum asosiasi ini akan bertolak ke Saudi demi melobi kuota sebanyak ini. Semakin banyak kuota tentu semakin baik, namun akan tetap saja tidak akan seperti kondisi normal.
Di tengah kondisi tak biasa itu, tentu dibutuhkan kerja keras untuk mengelolanya agar kebijakan-kebijakan yang lahir benar-benar bisa diterima lapang dada oleh semua kalangan.
Tentu akan banyak calon jamaah haji kita yang merasa kecewa karena gagal berangkat tahun ini lantaran batasan umur, kondisi kesehatan, dan sebagainya. Namun, dengan kebijakan yang dipikirkan matang dan mengutamakan aspek keterbukaan, diyakini calon jamaah khususnya akan lebih memahami.
Haji tahun ini memang mendatangkan tantangan tersendiri. Namun, sejatinya haji kali ini menjadi sarana merumuskan model terbaik penyelenggaraan di tengah kondisi yang terbatas. Untuk itu, model kerja yang taktis, cepat, serta tuntas dibutuhkan. Yang pasti, keberhasilan penyelenggaraan tahun ini akan menjadi fondasi kuat pengelolaan haji tahun berikutnya.
Pertemuan antara Dirjen PHU Kemenag Hilam Latief dengan Forum Silaturahmi Asosisasi Haji dan Umrah (Forum SHATU) baru-baru ini antara lain menghasilkan harapan agar kuota Indonesia bisa berjumlah 100.000. Bahkan perwakilan forum asosiasi ini akan bertolak ke Saudi demi melobi kuota sebanyak ini. Semakin banyak kuota tentu semakin baik, namun akan tetap saja tidak akan seperti kondisi normal.
Di tengah kondisi tak biasa itu, tentu dibutuhkan kerja keras untuk mengelolanya agar kebijakan-kebijakan yang lahir benar-benar bisa diterima lapang dada oleh semua kalangan.
Tentu akan banyak calon jamaah haji kita yang merasa kecewa karena gagal berangkat tahun ini lantaran batasan umur, kondisi kesehatan, dan sebagainya. Namun, dengan kebijakan yang dipikirkan matang dan mengutamakan aspek keterbukaan, diyakini calon jamaah khususnya akan lebih memahami.
Haji tahun ini memang mendatangkan tantangan tersendiri. Namun, sejatinya haji kali ini menjadi sarana merumuskan model terbaik penyelenggaraan di tengah kondisi yang terbatas. Untuk itu, model kerja yang taktis, cepat, serta tuntas dibutuhkan. Yang pasti, keberhasilan penyelenggaraan tahun ini akan menjadi fondasi kuat pengelolaan haji tahun berikutnya.
(bmm)
Lihat Juga :