Papua, Jalan Kebudayaan dan Transformasi Pembangunan

Jum'at, 08 April 2022 - 13:58 WIB
Papua adalah wilayah yang sangat besar. Luasnya hampir 3,5 kali pulau Jawa. Sementara penduduknya hanya 1% dari total penduduk Indonesia. Sekitar 2,5 juta jiwa. 70% nya tinggal di pedesaan, terpencar di lereng-lereng gunung, lembah-lembah, serta celah-celah bukit yang sulit dijangkau. Bukan hanya itu, di Papua juga terdapat 250 kelompok etnis/suku dengan kebiasaan-kebiasaan, kultur, bahasa, praktik-praktik serta agama/kepercayaan asli. Ditambah ada 100 kelompok etnis non-Papua. Itu kita belum berbicara soal kekayaan sumber daya alamnya, soal infrastruktur dan lain-lain.

Dengan gambaran seperti itu, saya melihat setidaknya ada 4 (empat) akar masalah di Papua yang harus dituntaskan.

Pertama, proses integrasi politik, ekonomi, sosial dan budaya yang belum sepenuhnya tuntas. Soal integrasi wilayah Papua ke NKRI tentu tak bisa ditawar lagi. Yang menjadi masalah adalah cara pandang pemimpin dan para pendukung Papua Merdeka yang masih mempermasalahkan soal integrasi. Soal ini sangat pelik. Sejak 1964, gerakan menuntut kemerdekaan selalu muncul, baik secara politik maupun perlawanan bersenjata yang bahkan masih bertahan hingga saat ini. Karena adanya tuntutan kemerdekaan itulah maka terjadi operasi militer dan kebijakan represif pada masa Orde Baru.

Kedua, siklus kekerasan. Akar masalah kedua adalah kekerasan negara pada masa lalu dan tuduhan pelanggaran HAM akibat kebijakan represif. Akibatnya, terbangun suasana konflik yang berkepanjangan dan menyebabkan trauma masayarakat Papua. Hal ini ditambah masih banyaknya Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) yang bahkan secara terang-terangan melakukan perlawanan terhadap aparat. Ini tentu akan berpengaruh terhadap proses pembangunan di Papua.

Ketiga, tidak optimalnya pembangunan infrastruktur sosial di Papua, khususnya di bidang pendidikan, kesehatan, dan pemberdayaan ekonomi rakyat. Hal ini kemudian berimbas pada rendahnya keterlibatan masyarakat asli Papua terhadap sektor-sektor itu. Keempat, marginalisasi dan efek diskriminasi terhadap orang asli Papua. Hal ini akibat konflik politik yang berkepanjangan, terurama di masa lalu yang akibatnya berlangsung hingga saat ini.

Keempat akar masalah itulah yang punya andil besar terhadap keberlangsungan masa depan Papua saat ini dan di masa depan. Karena itu perlu dilakukan diagnosa yang tepat untuk mengurai keempat masalah di atas, sehingga persoalan Papua bisa ditangani dengan tepat. Di sinilah saya melihat pendekatan baru yang tepat untuk membangun Papua yang lebih baik adalah melalui jalan kebudayaan dan transformasi pembangunan dari ekskusif ke inklusif.

Pertama, pembangunan di Papua, apapun itu bentuknya, harus berpijak dan berlandas pada jalan kebudayaan/pendekatan budaya. Artinya pembangunan di tanah Papua harus berlandaskan pada nilai, tradisi, etika, norma, budaya, hukum adat, serta aturan-aturan khusus yang dimiliki masyarakat Papua.

Kurang berhasilnya pembangunan di Papua selama ini saya melihat karena pembangunan tercerabut dari akar tradisi masyarakat asli Papua, serta memaksakan cara pandang luar terhadap masyarakat asli Papua. Jalan kebudayaan akan mampu membangun kohesivitas dan solidaritas sosial, menjadikan masyarakat asli Papua merasa memiliki, tidak terasing di tanah kelahiranya, dan lebih dari itu, jalan kebudayaan tidak akan menyebabkan pembangunan menjadi sangkar besi bagi masyarakat asli Papua sendiri.

Jalan kebudayaan menawarkan dialog yang memandang manusia sebagai manusia dan bagian anak kandung bangsa sendiri. Jalan kebudayaan juga akan mampu menjadi jalan bagi pengelolaan konflik akibat akumulasi persoalan di masa lalu yang telah menjadi trauma bagi masyarakat Papua.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!