Nekat Lamar Adik Ibu Tien, Danjen Kopassus Ini Diselamatkan Soeharto dari Rasa Malu

Kamis, 31 Maret 2022 - 12:42 WIB
Setelah masuk, ternyata hanya Wismoyo yang mengenakan sepatu. Groginya pun semakin menjadi. Apalagi Ibu Tien melihatnya dari bawah sampai atas yang membuat mentalnya runtuh. Wismoyo pun menjadi salah tingkah.

"Wong lanang kok ingah ingih (lelaki kok tersipu-sipu)," kata Ibu Tien disambut senyuman khas Pak Harto. Sementara Wismoyo hanya menunduk tak mampu berkata apa-apa.

"Aku mbiyen yo ingah ingih," kata Soeharto memecahkan ketegangan suasana sambil teringat saat meminang Ibu Tien.

Mendengar hal itu, suasana kembali cair. Mental Wismoyo pun kembali. Ia pun mengutarakan maksud kedatangannya untuk melamar Datit Siti Hardjanti dan diterima. Wismoyo dan Datit kemudian membina rumah tangga yang harmonis.

Peristiwa itu sangat membekas di hati Wismoyo. Menurut Kepala Staf TNI Angkatan Darat (KSAD) periode 1993-1995 ini, Soeharto memberikan contoh bahwa pemimpin harus berani menyelamatkan bawahannya untuk tujuan yang baik.

Hal lain yang dipelajari Wismoyo dari Soeharto adalah keberanian mengambil keputusan untuk bertindak cepat. Utamanya saat mengatasi pemberontakan Gerakan 30 September 1965 atau dikenal G30 S/PKI.

"Saya ini tentara," kata Pak Harto saat ditanya oleh Wismoyo soal pemberontakan PKI. "Tentara itu pedoman hidupnya Saptamarga. Kami patriot Indonesia, pendukung dan pembela ideologi negara yang bertanggung jawab dan tidak kenal menyerah. Melihat pemberontak yang komunis sedangkan ideologi negara adalah Pancasila, ya saya harus melawan. Kalau kalah saya akan memberontak," kata Soeharto yang menjabat sebagai Panglima Komando Strategis Angkatan Darat (Pangkostrad) saat pemberontakan PKI tersebut.
(abd)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!