Pengamat: Wacana Pemilu Ditunda Tidak Memberikan Pendidikan Politik yang Baik
Rabu, 02 Maret 2022 - 19:05 WIB
pengamat politik Universitas Padjadjaran (Unpad) Mudiyati Rahmatunnisa
JAKARTA - Wacana dimundurkannya Pemilu 2024 dinilai sebagai usulan absurd dan tidak memberikan pendidikan politik yang baik kepada rakyat. Tidak hanya itu, penundaan pemilu tidak sesuai dengan konstitusi.
"Secara konstitusi tidak sesuai karena sudah jelas pemilu digelar 5 tahun. Apalagi tanggal 14 Februari sudah disepakati pemerintah, KPU, dan DPR. Lalu kenapa Itu dilontarkan parpol. Menurut saya absurd karena mereka punya fungsi penting dalam politik," jelas pengamat politik Universitas Padjadjaran (Unpad) Mudiyati Rahmatunnisa, Rabu (2/3/2022).
Baca juga: Penundaan Pemilu 2024 Dinilai Langgar Konstitusi
Menurut Mudiyati, wacana menunda pemilu yang dilontarkan elite parpol dan pejabat negara tidak memberikan pendidikan politik yang baik bagi masyarakat. Mestinya, elite parpol memberi pelajaran kepada rakyat supaya demokrasi tetap berjalan baik.
Baca juga: Wacana Penundaan Pemilu 2024 Merepresentasikan Pemufakatan Jahat
"Saya kira alasannya enggak pas kalau disebut soal recovery ekonomi, pandemi, kepuasan rakyat terhadap pemerintah sekarang, atau soal perang Rusia. Alasan itu sudah terbantahkan semua," beber dia.
"Secara konstitusi tidak sesuai karena sudah jelas pemilu digelar 5 tahun. Apalagi tanggal 14 Februari sudah disepakati pemerintah, KPU, dan DPR. Lalu kenapa Itu dilontarkan parpol. Menurut saya absurd karena mereka punya fungsi penting dalam politik," jelas pengamat politik Universitas Padjadjaran (Unpad) Mudiyati Rahmatunnisa, Rabu (2/3/2022).
Baca juga: Penundaan Pemilu 2024 Dinilai Langgar Konstitusi
Menurut Mudiyati, wacana menunda pemilu yang dilontarkan elite parpol dan pejabat negara tidak memberikan pendidikan politik yang baik bagi masyarakat. Mestinya, elite parpol memberi pelajaran kepada rakyat supaya demokrasi tetap berjalan baik.
Baca juga: Wacana Penundaan Pemilu 2024 Merepresentasikan Pemufakatan Jahat
"Saya kira alasannya enggak pas kalau disebut soal recovery ekonomi, pandemi, kepuasan rakyat terhadap pemerintah sekarang, atau soal perang Rusia. Alasan itu sudah terbantahkan semua," beber dia.
Lihat Juga :