Pilpres dan Para 'Raumdeuter'
Selasa, 15 Februari 2022 - 15:40 WIB
Lalu apa hubungannya dengan pemilihan presiden (Pilpres) Indonesia? Ini tentang peran Raumdeuter dalam menciptakan ruang dan peluang. Kalau ditarik benang merahnya Raumdeuter ini memiliki fungsi yang mirip dengan para relawan calon presiden. Jika di pertandingan sepak bola tugasnya menciptakan ruang dan peluang agar terciptanya gol, di sudut berbeda, relawan calon presiden juga melakukan fungsi yang sama, yaitu menciptakan ruang bagi kandidatnya agar kemudian diterima masyarakat dan partai politik, sehingga punya peluang untuk diusung sebagai calon presiden, dan menang dalam kontestasi presiden. Jadi, kalau Thomas Muller adalah seorang Raumdeuter dalam sepakbola, maka bisa dikatakan para relawan pilpres adalah Raumdeuter-nya liga politik Indonesia.
Seperti kita ketahui, semenjak Pilpres 2014, keberadaan relawan semakin menunjukkan peran signifikan dalam kontestasi pemilihan presiden. Jejaringnya terus tumbuh dan tetap diperhitungkan meski kontestasi politik itu telah usai. Bisa kita lihat hari ini, banyak tokoh relawan yang kemudian menduduki posisi strategis di pemerintahan. Sebut saja Budie Arie Setiadi, ketua Relawan Pro Jokowi (Projo), yang hari ini menduduki jabatan sebagai wakil menteri desa. Belum lagi posisi-posisi strategis lainnya, seperti staf khusus, komisaris BUMN, dan direktur BUMN. Terlepas dari pro-kontra tentang bagi-bagi kekuasaannya, hal ini jelas adalah sebuah indikator bahwa jejaring relawan ini masih memiliki posisi tawar tinggi dan peran strategis dalam kontestasi politik Indonesia.
Begitu pula dengan kondisi hari ini. Kehadiran relawan menjelang Pilpres 2024 bagaikan cendawan di musim hujan. Ruang pemberitaan kita, kembali diwarnai dengan deklarasi dukungan para relawan. Ada Relawan Anies Baswedan, Relawan Prabowo, Relawan Ganjar, Relawan Puan Maharani, Relawan Muhaimin Iskandar, dan sepertinya akan terus bertambah jumlahnya. Fenomena ini tentu menunjukkan bahwa peran relawan tetap relevan dan dibutuhkan. Terutama sebagai Raumdeuter, karena memiliki ruang gerak yang luas dan tidak terikat oleh partai politik. Sehingga mereka bisa dengan cepat melakukan deklarasi, sosialisasi, infiltrasi, dan membentuk jejaring ke seluruh Indonesia tanpa adanya hierarki politik yang kaku. Ibarat permainan sepakbola, Keleluasan ini membuat mereka bisa cepat membaca arah “bola” politik, lalu menempatkan calon presidennya dalam posisi yang unggul dan strategis. Sehingga membuat partai politik mau tidak mau harus mengoper bolanya, sebagai syarat terciptanya gol dan menang pemilihan presiden ini.
Berkaca dengan peran relawan di Pilpres 2014, tentu kita masih ingat, saat itu Jokowi lebih dulu dideklarasikan sebagai calon presiden oleh para relawan. Gerakan ini sebagai langkah konsolidasi, karena PDIP tempat Jokowi bernaung belum menyatakan sikap untuk mengusung Jokowi sebagai calon presiden. Di sini bisa tergambar, bagaimana kerja relawan meskipun awalnya dianggap tidak memiliki kemampuan atau kekuatan yang besar, tapi secara terstruktur, jejaringnya mampu membuka ruang simpati masyarakat, yang kemudian membuat Jokowi semakin dikenal dan disukai masyarakat. Gerakan ini kemudian memberi efek yang dahsyat, membuat nama jokowi semakin diperhitungkan oleh PDIP dan partai-partai politik lainnya. Hasilnya Jokowi berhasil mendapatkan tiket capres, dan akhirnya menjadi presiden. Melihat peran relawan dari Pemilu 2014 dan 2019, maka wajar jika calon-calon presiden saat ini memberi perhatian khusus pada para Raumdeuter ini. Khususnya calon-calon presiden non-parpol, yang harus melewati langkah lebih panjang dalam mengamankan tiket maju pemilihan presiden. Kekuatan, soliditas, dan jejaring relawan yang bekerja untuk mereka, adalah kunci untuk membuat nama mereka masuk ke bursa teratas calon presiden yang akan diusung partai politik.
Peran strategis dan signifikan
Seperti kita ketahui, semenjak Pilpres 2014, keberadaan relawan semakin menunjukkan peran signifikan dalam kontestasi pemilihan presiden. Jejaringnya terus tumbuh dan tetap diperhitungkan meski kontestasi politik itu telah usai. Bisa kita lihat hari ini, banyak tokoh relawan yang kemudian menduduki posisi strategis di pemerintahan. Sebut saja Budie Arie Setiadi, ketua Relawan Pro Jokowi (Projo), yang hari ini menduduki jabatan sebagai wakil menteri desa. Belum lagi posisi-posisi strategis lainnya, seperti staf khusus, komisaris BUMN, dan direktur BUMN. Terlepas dari pro-kontra tentang bagi-bagi kekuasaannya, hal ini jelas adalah sebuah indikator bahwa jejaring relawan ini masih memiliki posisi tawar tinggi dan peran strategis dalam kontestasi politik Indonesia.
Begitu pula dengan kondisi hari ini. Kehadiran relawan menjelang Pilpres 2024 bagaikan cendawan di musim hujan. Ruang pemberitaan kita, kembali diwarnai dengan deklarasi dukungan para relawan. Ada Relawan Anies Baswedan, Relawan Prabowo, Relawan Ganjar, Relawan Puan Maharani, Relawan Muhaimin Iskandar, dan sepertinya akan terus bertambah jumlahnya. Fenomena ini tentu menunjukkan bahwa peran relawan tetap relevan dan dibutuhkan. Terutama sebagai Raumdeuter, karena memiliki ruang gerak yang luas dan tidak terikat oleh partai politik. Sehingga mereka bisa dengan cepat melakukan deklarasi, sosialisasi, infiltrasi, dan membentuk jejaring ke seluruh Indonesia tanpa adanya hierarki politik yang kaku. Ibarat permainan sepakbola, Keleluasan ini membuat mereka bisa cepat membaca arah “bola” politik, lalu menempatkan calon presidennya dalam posisi yang unggul dan strategis. Sehingga membuat partai politik mau tidak mau harus mengoper bolanya, sebagai syarat terciptanya gol dan menang pemilihan presiden ini.
Berkaca dengan peran relawan di Pilpres 2014, tentu kita masih ingat, saat itu Jokowi lebih dulu dideklarasikan sebagai calon presiden oleh para relawan. Gerakan ini sebagai langkah konsolidasi, karena PDIP tempat Jokowi bernaung belum menyatakan sikap untuk mengusung Jokowi sebagai calon presiden. Di sini bisa tergambar, bagaimana kerja relawan meskipun awalnya dianggap tidak memiliki kemampuan atau kekuatan yang besar, tapi secara terstruktur, jejaringnya mampu membuka ruang simpati masyarakat, yang kemudian membuat Jokowi semakin dikenal dan disukai masyarakat. Gerakan ini kemudian memberi efek yang dahsyat, membuat nama jokowi semakin diperhitungkan oleh PDIP dan partai-partai politik lainnya. Hasilnya Jokowi berhasil mendapatkan tiket capres, dan akhirnya menjadi presiden. Melihat peran relawan dari Pemilu 2014 dan 2019, maka wajar jika calon-calon presiden saat ini memberi perhatian khusus pada para Raumdeuter ini. Khususnya calon-calon presiden non-parpol, yang harus melewati langkah lebih panjang dalam mengamankan tiket maju pemilihan presiden. Kekuatan, soliditas, dan jejaring relawan yang bekerja untuk mereka, adalah kunci untuk membuat nama mereka masuk ke bursa teratas calon presiden yang akan diusung partai politik.
Peran strategis dan signifikan
Lihat Juga :