Dokter Reisa Ungkap Cara Jepang dan China Taipei Tangani COVID-19 Tanpa Lockdown

Sabtu, 13 Juni 2020 - 06:11 WIB
“Untuk itu kami berterima kasih banyak karena merekalah yang berjasa menurunkan angka penularan di beberapa daerah termasuk DKI Jakarta di bawah rata-rata satu,” jelas Reisa.

Sementara di China Taipei, para dokter di rumah sakit negara ini membuat sistem pemantauan pasien tanpa kontak. “Sebenarnya tujuannya adalah untuk mengurangi risiko terpapar virus bagi dokter dan perawat yang merawat pasien COVID-19,” kata Reisa.

“Karena menurut Kementerian Kesehatan Republik Indonesia orang yang paling berisiko tertular adalah orang yang kontak erat dengan pasien. Termasuk mereka yang merawat pasien COVID-19,” tambah Reisa.

Ia pun mengingatkan cara interaksi di masyarakat, pasalnya masa inkubasi virus COVID-19 bervariasi yakni 2 sampai 14 hari. “Ingat kembali bahwa ada yang namanya masa inkubasi yakni masa di mana seseorang itu terinfeksi dari mulai masuknya virus tersebut ke badan sampai dengan munculnya gejala penyakit pada tubuhnya. Masa ini bervariasi antara 2 sampai 14 hari,” jelasnya. (Baca juga: Mencari Format Terbaik Pendidikan di Pesantren dalam Pandemi Corona)

“Artinya, bisa ada orang-orang terinfeksi tetapi tidak atau belum menunjukkan gejala, atau menunjukkan gejala yang sangat ringan yang menunjukkannya masih bisa beraktivitas seperti biasa. Ingat kontak fisik, ingat jaga jarak,” tambah Reisa.
(kri)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!