Enggan Tilik Diri Lagi

Sabtu, 05 Februari 2022 - 07:56 WIB
Setidaknya kitab Makrifat Pagi dan keluar dari “zona nyaman” menjadi cermin atau media tilik diri untuk hidup berbangsa dan bernegara yang baik. Setidaknya pula, kita mempunyai karakter. Berkarakter! Tempo silam gawai media sosial riuh. Bahkan, media cetak hingga jagongan rumpi di angkringan ujung kampung demam tag-latah “Aku (Saya) Pancasila”. Alih-alih, dengan bangganya banyak orang mengunggah grafis “Aku (Saya) Pancasila” bersanding dengan foto pribadi yang kasual. Grafis dengan font nyentrik berwarna merah darah dan berlatar belakang putih polos. Atau bahkan dengan warna sebaliknya.

Masih terngiang tamsil tag-latah “Aku (Saya) Pancasila”?

Bung Yudi Latif pun tergelincir duplikasi. Katanya, “Perwakilan pelajar dan mahasiswa dari seluruh Indonesia akan diundang untuk belajar Pancasila lewat film, musik, dan buku. Mereka nanti akan kembali ke wilayah masing-masing sebagai duta Pancasila.” Ternyata, tag “Aku (Saya) Pancasila” sebanding “ Duta Pancasila ”.

Adakah arti penyimpangan logika berbahasa dalam tag tersebut?

Secara arti dalam KBBI V, Pancasila adalah dasar negara, falsafah bangsa dan negara Republik Indonesia yang terdiri atas lima sila, sedangkan Pancasilais adalah penganut ideologi Pancasila yang baik dan setia.

Bukankah intelektual atau totalitas pengertian yang dimaksud adalah “Aku (Saya) Pancasilais” atau “Duta Pancasilais”? Oleh karena itu, “aku (saya) haruslah Pancasilais”.

Berangkat dari virus diksi intelek (terpelajar) tersebut, opini ini terbentuk. Ada gagasan besar yang segera diketuk palu oleh UKP-BPIP, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, serta Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi. Personalia yang ditunjuk jelas, Yudi Latif (akhirnya keluar dari “zona nyaman”), Muhadjir Effendy , dan Mohamad Nasir. Koordinasinya bersinergi membangun trianggolo Pancasilais. Ada upaya karitatif demi penyelamatan nilai-nilai ideologi Pancasila.

Agenda urgensinya adalah “program pembelajaran Pancasila gaya baru”. Underan sasarannya adalah pelajar dan mahasiswa dari seluruh Indonesia. Program ini penting demi “iman” bernegara dan berbangsa. Sebab fenomena yang mencuat tergambar jelas bahwa sokoguru empat pilar negara sudah oleng dan limbung, carut-marut, serta karut-marut. Terjadi pemakzulan pelan-pelan terhadap Pancasila, UUD 1945, NKRI , dan Bhinneka Tunggal Ik a.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!