Kebugaran Orang Indonesia Rendah
Senin, 31 Januari 2022 - 11:00 WIB
Namun, aktivitas fisik yang rendah tidak melulu berdampak pada risiko penyakit fisik semata. Lebih dari itu, daya ingat atau memori seseorang juga bisa ikut terdampak. Ali menyebutkan jika rutin beraktivitas fisik, seseorang tidak akan gampang pikun atau menderita demensia. “Ketika sering berolahraga, oksigen mengalir secara optimal ke dalam otak. Dengan begitu, regenerasi sel di dalam otak dapat terjadi dengan bagus,” ujarnya.
“Kalau orang tidak bugar, produktivitasnya juga rendah. Misalnya, kalau bekerja gampang capek, mengeluh, sering tidak masuk kerja, maka itu adalah ciri orang dengan kondisi tidak bugar dan berdampak terhadap produktivitas,” katanya melanjutkan.
Lalu, apa yang dimaksud dengan partisipai aktif berolahraga? Apakah semua aktivitas fisik masuk kategori berolahraga? Menurut Ali Maksum, dalam Laporan SDI 2021 ini, ada kriteria tertentu yang ditetapkan. Seseorang disebut berpartisipasi aktif ketika ia melakukan aktivitas fisik atau berolahraga minimal tiga kali dalam seminggu. Menurutnya, itu sesuai dengan standar dari WHO, yakni sekurang-kurangnya melakukan tiga kali aktivitas fisik dalam sepekan. Sekali latihan minimal sekitar 30 menit.
“Kalau hanya sekali seminggu, tidak berdampak signifikan terhadap kesehatan. Apalagi kadang olahraga, kadang tidak. Kategori olahraga itu dalam artian seseorang bisa melakukan apa saja. Misalnya, jogging, jalan, sepakbola, bulutangkis, dan lainnya,” paparnya.
Sementara itu, tujuan Kemepora menyusun Laporan Nasional Sport Development Index (SDI) 2021 karena data mengenai olahraga masyarakat sejauh ini belum tersedia.
“Di luar olahraga prestasi selama ini kita tidak punya data. Karena tujuan pembagunan kelolahragaan tidak hanya prestasi, kami ingin tahu capaiainya seperti apa, sehingga dengan itu kami lakukan pendataan,” ujar Asisten Deputi Kemitraan dan Penghargaan Olahraga, Kemenpora, Suyadi Pawiro saat dihubungi Jumat (28/1) akhir pekan lalu.
Suyadi menyebut data seperti partisipasi olahraga yang menjadi salah satu dimensi penelitian SDI 2021 sangat penting. “Kalau kita bandingkan dengan negara maju kita ketinggalan. Contoh Australia, pada 2017 tingkat partsipasi olahraga masyarakatnya sudah 87%,” ujarnya.
Kendati demikian, Kemepora tidak bisa serta merta membandingkan data partisipasi olahragara dalam negeri dengan luar negeri karena gaya dan pola hidup berbeda.
Hal yang terpenting setelah pihaknya mendapatkan data SDI 2021 adalah ini apa langkah selanjutnya untuk meningkatkan partisipasi olahraga masyarakat.
“What's next, apa yang akan dilakukan pemrintah, dalam hal ini Kemenpora, untuk mendorong partisipasi olaharga,” ujarnya.
Diakuinya, Kemenpora tidak bisa bekerja sendiri karena lembaga tersebut sufatnya hanya memformulasi kebijakan. Adapun yang memiliki penduduk atau masyarakat, juga ruang terbuka berolahraga adalah pemerintah kabupaten/kota.
“Angka partisipasi olahraga hanya 32,83%. Ini tergolong rendah sekali. Ini tantangan kami, tantangan terbesar bagaimana pemerintah kabupayen/kota mendorong masyarakat berolahraga,” ujarnya.
Di negara maju, kata dia, ada regulasi yang “memaksa” orang beraktivitas fisik. Contoh, ketika akan membangun sekolah, maka tidak boleh gedung mepet ke jalan. Atau orang tua anak tidak boleh menurunkan anak di depan pintu sekolah. “Diajarkan menggunakn tranportasi publik, karena dari rumah menuju bis tempat anak turun ada kesempatan berjalan kaki,” ujarnya.
Pemerintah disebutnya akan bekerja keras mencapai target partisipasi olahraga. Dalam Desain Olaharga Nasional yang merujuk Visi Indeonesia Emas 2045, target partispasi olahraga masyarakat adalah 70%. Selain itu, pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), di akhir pemerintahan Presiden Jokowi target partsipasi olahraga mencapai 40%.
“Ini ada tantangan besar ketika Covid-19 masih berlangsung, padahal dua atau tiga tahun ini target kami mengatasi gap yanga da, dan mencapai partisipasi 40%,” paparnya.
Apa yang dilakukan untuk mencapai target? Menurut Suyadi, Kemenpora sudah bertemu dengan Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek). Pihaknya mendorong Kemendikbud Ristek melakukan langkah bersama mengubah kurikulum. Diharapkana kurikulum menjadi relevan dengan keinginan meningkatkan aktivitas atau gerak anak siswa? “Misalnya apakah senam kesegaran jasmani (SKJ) perlu didorong kembali, atau apa perlu dimodifikasi? Ataukah perlu penambahan jam pelajaran olahraga, atau senam sebelum sekolah, itu sedang kami bicarakan dengan Kemendikbud secara intensif,” paparnya.
“Kalau orang tidak bugar, produktivitasnya juga rendah. Misalnya, kalau bekerja gampang capek, mengeluh, sering tidak masuk kerja, maka itu adalah ciri orang dengan kondisi tidak bugar dan berdampak terhadap produktivitas,” katanya melanjutkan.
Lalu, apa yang dimaksud dengan partisipai aktif berolahraga? Apakah semua aktivitas fisik masuk kategori berolahraga? Menurut Ali Maksum, dalam Laporan SDI 2021 ini, ada kriteria tertentu yang ditetapkan. Seseorang disebut berpartisipasi aktif ketika ia melakukan aktivitas fisik atau berolahraga minimal tiga kali dalam seminggu. Menurutnya, itu sesuai dengan standar dari WHO, yakni sekurang-kurangnya melakukan tiga kali aktivitas fisik dalam sepekan. Sekali latihan minimal sekitar 30 menit.
“Kalau hanya sekali seminggu, tidak berdampak signifikan terhadap kesehatan. Apalagi kadang olahraga, kadang tidak. Kategori olahraga itu dalam artian seseorang bisa melakukan apa saja. Misalnya, jogging, jalan, sepakbola, bulutangkis, dan lainnya,” paparnya.
Sementara itu, tujuan Kemepora menyusun Laporan Nasional Sport Development Index (SDI) 2021 karena data mengenai olahraga masyarakat sejauh ini belum tersedia.
“Di luar olahraga prestasi selama ini kita tidak punya data. Karena tujuan pembagunan kelolahragaan tidak hanya prestasi, kami ingin tahu capaiainya seperti apa, sehingga dengan itu kami lakukan pendataan,” ujar Asisten Deputi Kemitraan dan Penghargaan Olahraga, Kemenpora, Suyadi Pawiro saat dihubungi Jumat (28/1) akhir pekan lalu.
Suyadi menyebut data seperti partisipasi olahraga yang menjadi salah satu dimensi penelitian SDI 2021 sangat penting. “Kalau kita bandingkan dengan negara maju kita ketinggalan. Contoh Australia, pada 2017 tingkat partsipasi olahraga masyarakatnya sudah 87%,” ujarnya.
Kendati demikian, Kemepora tidak bisa serta merta membandingkan data partisipasi olahragara dalam negeri dengan luar negeri karena gaya dan pola hidup berbeda.
Hal yang terpenting setelah pihaknya mendapatkan data SDI 2021 adalah ini apa langkah selanjutnya untuk meningkatkan partisipasi olahraga masyarakat.
“What's next, apa yang akan dilakukan pemrintah, dalam hal ini Kemenpora, untuk mendorong partisipasi olaharga,” ujarnya.
Diakuinya, Kemenpora tidak bisa bekerja sendiri karena lembaga tersebut sufatnya hanya memformulasi kebijakan. Adapun yang memiliki penduduk atau masyarakat, juga ruang terbuka berolahraga adalah pemerintah kabupaten/kota.
“Angka partisipasi olahraga hanya 32,83%. Ini tergolong rendah sekali. Ini tantangan kami, tantangan terbesar bagaimana pemerintah kabupayen/kota mendorong masyarakat berolahraga,” ujarnya.
Di negara maju, kata dia, ada regulasi yang “memaksa” orang beraktivitas fisik. Contoh, ketika akan membangun sekolah, maka tidak boleh gedung mepet ke jalan. Atau orang tua anak tidak boleh menurunkan anak di depan pintu sekolah. “Diajarkan menggunakn tranportasi publik, karena dari rumah menuju bis tempat anak turun ada kesempatan berjalan kaki,” ujarnya.
Pemerintah disebutnya akan bekerja keras mencapai target partisipasi olahraga. Dalam Desain Olaharga Nasional yang merujuk Visi Indeonesia Emas 2045, target partispasi olahraga masyarakat adalah 70%. Selain itu, pada Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), di akhir pemerintahan Presiden Jokowi target partsipasi olahraga mencapai 40%.
“Ini ada tantangan besar ketika Covid-19 masih berlangsung, padahal dua atau tiga tahun ini target kami mengatasi gap yanga da, dan mencapai partisipasi 40%,” paparnya.
Apa yang dilakukan untuk mencapai target? Menurut Suyadi, Kemenpora sudah bertemu dengan Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbud Ristek). Pihaknya mendorong Kemendikbud Ristek melakukan langkah bersama mengubah kurikulum. Diharapkana kurikulum menjadi relevan dengan keinginan meningkatkan aktivitas atau gerak anak siswa? “Misalnya apakah senam kesegaran jasmani (SKJ) perlu didorong kembali, atau apa perlu dimodifikasi? Ataukah perlu penambahan jam pelajaran olahraga, atau senam sebelum sekolah, itu sedang kami bicarakan dengan Kemendikbud secara intensif,” paparnya.
Lihat Juga :