Sains yang Nirmakna
Sabtu, 22 Januari 2022 - 08:54 WIB
Pandangan seperti itu, jelas nampak pada tradisi-tradisi masyarakat timur. Misalnya agama Budha yang menekankan keseimbangan hidup dengan alam agar dapat mencapai moksha, atau Islam yang menyatakan bahwa manusia adalah khalifah fil ‘ard yang bertugas untuk mengatur, menyeimbangkan, menyejahterakan, serta menjaga bumi dan seisinya agar tetap dalam ekosistem yang baik. Pun demikian dengan taoisme di China yang mengajarkan bila manusia ingin hidup tenteram dan damai, maka harus bersahabat dengan alam.
Nasr menjelaskan bahwa akar dari permasalahan ini karena terjadinya revolusi sains di Eropa. Hal itu bermula di era renaisans, para filsuf dan pemikir di Eropa kala itu, membuang pemikiran teistik menuju logika yang empiris, yakni segala sesuatu harus berjalan sesuai bukti fisik, yang indera manusia sendiri secara nyata harus merasakannya.
Alhasil, corak pemikiran dan kepercayaan yang bertolak dari empirisme dibuang. Maka wajar, jika di Eropa, terjadi gelombang ateisme besar-besaran. Mereka beranggapan bahwa agama hanya kesia-siaan belaka karena Tuhan tidak pernah muncul di hadapan mata mereka. Padahal, agama sendiri berisi seperangkat nilai yang mengatur jalannya keseimbangan antara sesama manusia, alam, maupun dengan Realitas Mutlak.
Pada tahap selanjutnya, revolusi itu mengerucut pada penemuan rumus dan bermacam teori yang sangat empiris, yang tidak memiliki tanggung jawab dan signifikansi terhadap norma-norma kehidupan. Asalkan secara nalar dianggap benar, maka sah-sah saja untuk diterima. Sehingga, sains tidak lagi memiliki tugas untuk mencari hakikat nyata sebuah benda—yang pada hilirnya mengantarkan kepada Realitas Mutlak—melainkan berfungsi untuk membangun hubungan antar tanda matematis dan fisik.
Konsepan ini yang akhirnya menentukan arah manusia modern dalam menentukan makna total hakikat benda, maupun pandangannya terhadap alam semesta. Sains modern menyatakan bahwa alam hanyalah kumpulan dari materi-materi yang dapat diukur dan dipelajari. Bukan sebagai satu kesatuan yang epistemik, alam semesta menjadi sesuatu yang beda, pisah-terdikotomi dari bagian manusia itu sendiri—the others. Karena alam menyediakan materi-materi yang manusia butuhkan untuk menyambung kehidupan, maka alam dilihat sebagai sesuatu yang harus digunakan dan dinikmati semaksimal mungkin.
“Bukannya seperti seorang wanita yang menikah di mana laki-laki mendapat kebaikan sekaligus memikul tanggung jawab, alam, bagi manusia modern telah menjadi seperti seorang pelacur—dimanfaatkan namun tanpa ada arti kewajiban dan tanggung jawab terhadapnya. Persoalannya adalah, alam yang telah dijadikan pelacur ini semakin terkuras hingga ke tingkat yang mustahil, sedangkan dalam batas-batas tertentu, alam akan mengalami kerusakan sehingga tidak lagi manusia dapat mengambil manfaat darinya.” (Hal. 32)
Berbeda hal, sains-sains yang dikembangkan di era dulu memiliki integrasi yang lekat terhadap alam dan kepercayaan. Dalam konteks ini, Nasr menyebutnya metafisika. Yakni sains atau ilmu yang mempelajari tentang Realitas Mutlak serta asal usul dan tujuan semua benda. Bukan hanya digali dengan pengukuran rasional sebagaimana matematika, namun turut melibatkan intuisi intelektual.
Nasr menjelaskan bahwa akar dari permasalahan ini karena terjadinya revolusi sains di Eropa. Hal itu bermula di era renaisans, para filsuf dan pemikir di Eropa kala itu, membuang pemikiran teistik menuju logika yang empiris, yakni segala sesuatu harus berjalan sesuai bukti fisik, yang indera manusia sendiri secara nyata harus merasakannya.
Alhasil, corak pemikiran dan kepercayaan yang bertolak dari empirisme dibuang. Maka wajar, jika di Eropa, terjadi gelombang ateisme besar-besaran. Mereka beranggapan bahwa agama hanya kesia-siaan belaka karena Tuhan tidak pernah muncul di hadapan mata mereka. Padahal, agama sendiri berisi seperangkat nilai yang mengatur jalannya keseimbangan antara sesama manusia, alam, maupun dengan Realitas Mutlak.
Pada tahap selanjutnya, revolusi itu mengerucut pada penemuan rumus dan bermacam teori yang sangat empiris, yang tidak memiliki tanggung jawab dan signifikansi terhadap norma-norma kehidupan. Asalkan secara nalar dianggap benar, maka sah-sah saja untuk diterima. Sehingga, sains tidak lagi memiliki tugas untuk mencari hakikat nyata sebuah benda—yang pada hilirnya mengantarkan kepada Realitas Mutlak—melainkan berfungsi untuk membangun hubungan antar tanda matematis dan fisik.
Konsepan ini yang akhirnya menentukan arah manusia modern dalam menentukan makna total hakikat benda, maupun pandangannya terhadap alam semesta. Sains modern menyatakan bahwa alam hanyalah kumpulan dari materi-materi yang dapat diukur dan dipelajari. Bukan sebagai satu kesatuan yang epistemik, alam semesta menjadi sesuatu yang beda, pisah-terdikotomi dari bagian manusia itu sendiri—the others. Karena alam menyediakan materi-materi yang manusia butuhkan untuk menyambung kehidupan, maka alam dilihat sebagai sesuatu yang harus digunakan dan dinikmati semaksimal mungkin.
“Bukannya seperti seorang wanita yang menikah di mana laki-laki mendapat kebaikan sekaligus memikul tanggung jawab, alam, bagi manusia modern telah menjadi seperti seorang pelacur—dimanfaatkan namun tanpa ada arti kewajiban dan tanggung jawab terhadapnya. Persoalannya adalah, alam yang telah dijadikan pelacur ini semakin terkuras hingga ke tingkat yang mustahil, sedangkan dalam batas-batas tertentu, alam akan mengalami kerusakan sehingga tidak lagi manusia dapat mengambil manfaat darinya.” (Hal. 32)
Berbeda hal, sains-sains yang dikembangkan di era dulu memiliki integrasi yang lekat terhadap alam dan kepercayaan. Dalam konteks ini, Nasr menyebutnya metafisika. Yakni sains atau ilmu yang mempelajari tentang Realitas Mutlak serta asal usul dan tujuan semua benda. Bukan hanya digali dengan pengukuran rasional sebagaimana matematika, namun turut melibatkan intuisi intelektual.
Lihat Juga :