Jelang Muktamar NU, Keberanian KH Ali Maksum saat Menjadi Rais Aam PBNU Kembali Dikenang

Selasa, 21 Desember 2021 - 16:45 WIB
Kiai Asyhari berpesan agar mencari pemimpin NU yang berbuat banyak untuk kemaslahatan umat, tidak memboncengi organisasi untuk kepentingan pribadi dan politik golongan.

Untuk hal ini, ia menceritakan tentang keberanian, integritas, dan visi keulamaan KH Ali Maksum ketika memikul amanah sebagai Rais Aam PBNU. Kiai Ali sangat berani ketika memaksa KH Idham Chalid untuk berhenti menjadi Ketua Umum Tanfidziyah PBNU. Idham Chalid adalah ketua PBNU terlama, menjabat sejak 1956-1984.

"Kalau tidak diberhentikan, Pak Idham Chalid pasti akan maju terus mencalonkan diri sebagai Ketua Umum PBNU dan akan terpilih terus. Jadi, Pak Idham itu bikin cabang NU atau pengurus cabang itu banyak sekali di Jakarta, kecamatan-kecamatan itu dijadikan pengurus cabang, sehingga dukungan kepada Pak Idham setiap muktamar atau pemilihan Ketua Umum Tanfidziyah PBNU selalu menang," tutur Kiai Asyhari.

Baca juga: Jelang Muktamar, Mayoritas PCNU di Jabar Deklarasi Dukung Gus Yahya



Menurutnya, saat itu KH Idham Kholid juga merupakan Ketua Partai Persatuan Pembangunan (PPP), tapi sangat lemah dalam membela kepentingan politik NU di PPP. Idham Kholid selalu kalah dengan Jailani Naro dan kawan-kawan.

"Itulah keberanian dan simbol supremasi Rais Aam PBNU era KH Ali Maksum dalam menata regenerasi kepemimpinan NU sekaligus menata hubungan politik NU dengan politik praktis ketika Soeharto sangat powerfull berkuasa," katanya.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!