Akuakultur dan Perubahan Iklim
Rabu, 08 Desember 2021 - 13:57 WIB
Pondasi akuakultur merupakan kebutuhan dasar yang diperlukan agar akuakultur mampu meningkatkatkan produksinya, berkelanjutan serta adaptif terhadap perubahan, termasuk perubahan iklim. Tentu pengalaman buruk yang menimpa udang windu dapat dijadikan pembelajaran berharga agar tidak melakukan kesalahan yang sama terkait peningkaatan volume produksi.
Pondasi Akuakultur Indonesia
Setiap tahun kasus kematian ikan budidaya sering terjadi akibat perubahan cuaca yang ekstrem. Sulaiman et al (2020) menjelaskan, di beberapa lokasi kegiatan budidaya kematian massal ikan disebabkan bukan hanya faktor teknis budidaya, namun karena cuaca yang ekstrem (hujan deras dan angin kencang).
Kasus udang windu, kematian massal ikan menjadi indikasi kuat akuakultur Indonesia membutuhkan pondasi kuat untuk menghadapi dampak perubahan iklim yang terjadi. Pondasi akuakultur dapat dibangun melalui mekanisme kebijakan riset yang tidak berhenti walaupun terjadi pergantian kepemimpinan. Hal tersebut dibuktikan oleh Norwegia dari 1970 dengan ikan salmonnya dan Vietnam dari 1975 dengan lobsternya. Sektor akukultur dua negara tersebut kuat, adaptif dan meyejahterakan. Kebijakan pengembangan riset dapat dijabarkan dalam beberapa langkah berdasarkan segmentasi kebutuhan.
Pertama, segmentasi pengembangan riset benih unggul. Benih unggul salah satu syarat agar kegiatan akuakultur dapat berkelanjutan dan adaptif. Fokus riset berupa penerapan bioteknologi molekuler yang dapat menghasilkan pemuliaan benih unggul, percepatan kematangan gonad, memperpendek waktu panen dan peningkatan resistensi terhadap serangan penyakit.
Kedua, segmentasi pengembangan riset nutrisi dan formulasi pakan. Dalam akuakultur, total biaya produksi hampir 60% merupakan komponen biaya pakan. Disamping itu penggunaan pakan dalam akuakultur dapat menimbulkan pencemaran berupa limbah dan bersifat toksik. Sehingga pengembangan difokuskan untuk menghasilkan formulasi nutrisi pakan yang tepat sehingga dihasilkan pakan dengan harga lebih murah, tidak mencemari lingkungan dan memilki komposisi nutrien yang dapat memacu pertumbuhan ikan lebih cepat.
Pondasi Akuakultur Indonesia
Setiap tahun kasus kematian ikan budidaya sering terjadi akibat perubahan cuaca yang ekstrem. Sulaiman et al (2020) menjelaskan, di beberapa lokasi kegiatan budidaya kematian massal ikan disebabkan bukan hanya faktor teknis budidaya, namun karena cuaca yang ekstrem (hujan deras dan angin kencang).
Kasus udang windu, kematian massal ikan menjadi indikasi kuat akuakultur Indonesia membutuhkan pondasi kuat untuk menghadapi dampak perubahan iklim yang terjadi. Pondasi akuakultur dapat dibangun melalui mekanisme kebijakan riset yang tidak berhenti walaupun terjadi pergantian kepemimpinan. Hal tersebut dibuktikan oleh Norwegia dari 1970 dengan ikan salmonnya dan Vietnam dari 1975 dengan lobsternya. Sektor akukultur dua negara tersebut kuat, adaptif dan meyejahterakan. Kebijakan pengembangan riset dapat dijabarkan dalam beberapa langkah berdasarkan segmentasi kebutuhan.
Pertama, segmentasi pengembangan riset benih unggul. Benih unggul salah satu syarat agar kegiatan akuakultur dapat berkelanjutan dan adaptif. Fokus riset berupa penerapan bioteknologi molekuler yang dapat menghasilkan pemuliaan benih unggul, percepatan kematangan gonad, memperpendek waktu panen dan peningkatan resistensi terhadap serangan penyakit.
Kedua, segmentasi pengembangan riset nutrisi dan formulasi pakan. Dalam akuakultur, total biaya produksi hampir 60% merupakan komponen biaya pakan. Disamping itu penggunaan pakan dalam akuakultur dapat menimbulkan pencemaran berupa limbah dan bersifat toksik. Sehingga pengembangan difokuskan untuk menghasilkan formulasi nutrisi pakan yang tepat sehingga dihasilkan pakan dengan harga lebih murah, tidak mencemari lingkungan dan memilki komposisi nutrien yang dapat memacu pertumbuhan ikan lebih cepat.
Lihat Juga :