Misteri Buku Kecil LB Moerdani Dibongkar Jenderal Kopassus, Isinya Mencengangkan

Minggu, 14 November 2021 - 09:36 WIB
Dia berpandangan, pengusaan Merauke akan memberikan pengaruh psikologis bagi kampanye Presiden Soekarno untuk mengambil alih Papua dari Belanda. "Soekarno memakai frase tersebut ketika memerintahkan invasi ke Papua," ungkap LB Moerdani dalam buku Benny Moerdani: Profil Prajurit Negarawan tulisan Julius Pour.

Hampir seluruh kariernya dihabiskan untuk mengurus masalah intelijen. Setelah berselisih pendapat dengan Letjen Ahmad Yani, LB Moerdani harus meninggalkan Korps Baret Merah kebanggaannya.

Sejak itu pula dia menjadi perwira intelijen. Mula-mula medan perangnya Malaysia, kemudian Seoul, Korea Selatan, sebagaimana ditulis A Pambudi dalam buku 'Sintong & Prabowo: dari Kudeta LB Moerdani hingga Kudeta Prabowo'.

Setelah peristiwa Malapetaka 15 Januari atau Malari pada 1974. Ali Moertopo memanggilnya ke Jakarta. LB Moerdani diajak untuk menangani masalah-masalah intelijen hankam.

"LB Moerdani adalah generasi intelijen berikutnya yang dipercaya Soeharto setelah Ali Moertopo dan Yoga Sugama. Jenderal Benny dan Moertopo sama-sama terlibat dalam CSIS," tulis Pambudi.

Antara 1974-1978, situasi agak tenang. Keputusan Presiden membubarkan lembaga Aspri (asisten pribadi) direspons banyak kalangan sebagai iktikad baik memperbaiki keadaan. Pada periode ini terjadi konsolidasi ulang lembaga intelijen di bawah LB Moerdani.

Setelah drama pembajakan Woyla, nama Benny kian bersinar. Prajurit yang juga melambung namanya yakni Sintong Panjaitan dan Subagyo HS. Tetap di level elite, menuru Julius Pour, Benny yang mendapat kredit besar.

LB Moerdani setelah sekitar tiga tahun lebih menderita sakit, tutup usia di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta Pusat pada 29 Agustus 2004. Usianya mencapai 72 tahun. Jenazahnya dikebumikan di Taman Makam Pahlawan (TMP) Kalibata, Jakarta.
(maf)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!