Misteri Buku Kecil LB Moerdani Dibongkar Jenderal Kopassus, Isinya Mencengangkan
Minggu, 14 November 2021 - 09:36 WIB
Bersama Kapten Inf Prabowo Subianto (kini Menteri Pertahanan), Luhut dipercaya untuk belajar antiteror di satuan elite Kepolisian GSG-9, Jerman Barat. Ketika itu Indonesia baru saja mendapat pengalaman yang menggentarkan dunia, melumpuhkan teroris pembajak pesawat Woyla.
Menurut Luhut, LB Moerdani selalu memintanya untuk memberikan laporan kemajuan sekolah di Jerman. Tentara kelahiran Blora itu bahkan tak segan untuk bertanya detail.
Sepulang dari Jerman, Luhut memimpin pasukan antiteror pertama di Indonesia yakni Detasemen 81 Kopassus. Ketika ini interaksinya dengan LB Moerdani semakin intensif.
"Saya sering dipanggil menghadap Pak Benny di kantornya Jalan Sahardjo (sekarang lokasinya menjadi Balai Prajurit TNI). Entah menanyakan pelatihan pasukan yang baru itu atau lain-lain," kata Luhut dalam akun resmi media sosial miliknya.
Luhut menggambarkan, LB Moerdani memiliki karakter yang sangat kuat. Auranya memancarkan wibawa ditambah dengan wajahnya yang keras dan jarang tersenyum.
"Saya kagum bahwa loyalitas kepada pimpinan negara dan NKRI tidak perlu dipertanyakan lagi. Setiap kata atau tindakannya mencerminkan, menurut istilah sekarang, kesetiaan yang tegak lurus," ujar mantan Komandan Group 3 Sandhi Yudha Kopassus, (1990) ini.
Jauh sebelum menjadi orang kepercayaan Presiden Soeharto dengan ditunjuk sebagai Panglima ABRI, LB Moerdani telah berkutat di dunia intelijen. Mentornya tak lain Ali Moertopo, mantan asisten pribadi Soeharto yang pernah menjabat Wakil Kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara (Bakin).
LB Moerdani sesungguhnya tak pernah punya pengalaman memimpin teritorial. Namun dia memiliki catatan emas saat terjun di Merauke saat melawan kolonial Belanda dan setelahnya menumpas gerakan PRRI/Permesta di Sumatera.
Untuk diketahui, pada 1962 pasukan Kopassandha (kini Kopassus) terlibat dalam operasi tertutup, menyusup ke Merauke. Kapten LB Moerdani memimpin satu pasukan, melakukan terjun payung ke daerah rawa-rawa di Merauke.
LB Moerdani menyebut dirinya yang mengusulkan ide penyusupan itu lantaran slogan 'Dari Sabang sampai Merauke'. Sabang merupakan kota di ujung paling barat Aceh, sementara Merauke dianggap ujung paling timur Indonesia. Slogan itu juga menjadi judul lagu nasional berjudul sama.
Menurut Luhut, LB Moerdani selalu memintanya untuk memberikan laporan kemajuan sekolah di Jerman. Tentara kelahiran Blora itu bahkan tak segan untuk bertanya detail.
Sepulang dari Jerman, Luhut memimpin pasukan antiteror pertama di Indonesia yakni Detasemen 81 Kopassus. Ketika ini interaksinya dengan LB Moerdani semakin intensif.
"Saya sering dipanggil menghadap Pak Benny di kantornya Jalan Sahardjo (sekarang lokasinya menjadi Balai Prajurit TNI). Entah menanyakan pelatihan pasukan yang baru itu atau lain-lain," kata Luhut dalam akun resmi media sosial miliknya.
Luhut menggambarkan, LB Moerdani memiliki karakter yang sangat kuat. Auranya memancarkan wibawa ditambah dengan wajahnya yang keras dan jarang tersenyum.
"Saya kagum bahwa loyalitas kepada pimpinan negara dan NKRI tidak perlu dipertanyakan lagi. Setiap kata atau tindakannya mencerminkan, menurut istilah sekarang, kesetiaan yang tegak lurus," ujar mantan Komandan Group 3 Sandhi Yudha Kopassus, (1990) ini.
Jauh sebelum menjadi orang kepercayaan Presiden Soeharto dengan ditunjuk sebagai Panglima ABRI, LB Moerdani telah berkutat di dunia intelijen. Mentornya tak lain Ali Moertopo, mantan asisten pribadi Soeharto yang pernah menjabat Wakil Kepala Badan Koordinasi Intelijen Negara (Bakin).
LB Moerdani sesungguhnya tak pernah punya pengalaman memimpin teritorial. Namun dia memiliki catatan emas saat terjun di Merauke saat melawan kolonial Belanda dan setelahnya menumpas gerakan PRRI/Permesta di Sumatera.
Untuk diketahui, pada 1962 pasukan Kopassandha (kini Kopassus) terlibat dalam operasi tertutup, menyusup ke Merauke. Kapten LB Moerdani memimpin satu pasukan, melakukan terjun payung ke daerah rawa-rawa di Merauke.
LB Moerdani menyebut dirinya yang mengusulkan ide penyusupan itu lantaran slogan 'Dari Sabang sampai Merauke'. Sabang merupakan kota di ujung paling barat Aceh, sementara Merauke dianggap ujung paling timur Indonesia. Slogan itu juga menjadi judul lagu nasional berjudul sama.
Lihat Juga :