Ngaji Keteladanan dari Sosok Mbah Moen
Sabtu, 16 Oktober 2021 - 09:13 WIB
Melalui ngaji Ahadan, Kiai Maimoen berpesan, jika ingin memahami Islam dengan baik, mengajilah. Menurutnya, pengajian hanya sebagai pemantik, selanjutnya adalah ngaji itu sendiri. Selama ini, banyak jemaah pengajian Kiai Maimoen yang kemudian aktif mengaji Ahadan. Kiai yang ingin mendidik masyarakat tak boleh hanya mencukupkan diri dengan pengajian-pengajian, karena pengajian hanya memberi gambaran-gambaran luar. Selebihnya, ngaji kitab adalah hal yang penting untuk meperdalam dan memperluas ilmu agama (hlm. 8).
Ijtihad yang Mengedepankan Persatuan
Masyarakat Indonesia saat ini berada di tengah situasi yang memprihatinkan. Nilai-nilai toleransi seakan mulai terkikis sehingga, perbedaan pandangan dan pendapat di tengah masyarakat sering kali jadi ajang permusuhan, caci maki, dan saling menghina antara satu dan lainnya. Masyarakat masih tidak bisa memahami makna perbedaan yang seharusnya menjadi media untuk mengeratkan persatuan dan kesatuan.
baca juga: Pemkot Bogor Luncurkan Bogor Mengaji bagi Pralansia
Salah satu hal mengagumkan dari Kiai Maimoen, beliau adalah sosok ilmuwan multidimensi yang menguasai banyak disiplin ilmu. Ceramahnya di berbagai tempat dan pengajiannya menunjukkan hal itu. Kitab-kitab yang ditulisnya menunjukkan kedalaman ilmu, cara pandang, dan wawasan Kiai Maimoen yang lintas disiplin ilmu. Mbah Moen juga sosok ahli sejarah, ilmu alat, fikih, ushul fikih, pembaru, sufi, ahlul kalam, pakar sanad, dan lain-lain.
Salah satu pemikiran besar Kiai Maimoen yang menghadirkan banyak pencerahan di masyarakat adalah ijtihad dalam kerangka kesatuan. Menurutnya, ijtihad antara satu ulama dengan ulama yang lain jangan sampai mengakibatkan perselisihan dan perpecahan. Sebaliknya, perbedaan pandangan dan pendapat harus semakin mengeratkan hubungan satu dengan yang lain. Masing-masing harus bisa menghargai pendapat yang didasarkan hujjah yang kuat dan benar.
baca juga: Atasi Buta Huruf Alquran, Bima Arya Gagas Program Bogor Mengaji
Namun, yang terjadi di masyarakat saat ini adalah, perbedaan pendapat justru mendatangkan permusuhan. Masing-masing mengklaim diri dan kelompoknya yang paling benar. Bahkan, ada yang menyesatkan kelompok lain karena perbedaan pandangan. Pendapatnya menjadi jalan merendahkan pendapat yang lain sehingga perpecahan dan pertengkaran tidak terhindarkan (hlm. 94).
Ijtihad yang Mengedepankan Persatuan
Masyarakat Indonesia saat ini berada di tengah situasi yang memprihatinkan. Nilai-nilai toleransi seakan mulai terkikis sehingga, perbedaan pandangan dan pendapat di tengah masyarakat sering kali jadi ajang permusuhan, caci maki, dan saling menghina antara satu dan lainnya. Masyarakat masih tidak bisa memahami makna perbedaan yang seharusnya menjadi media untuk mengeratkan persatuan dan kesatuan.
baca juga: Pemkot Bogor Luncurkan Bogor Mengaji bagi Pralansia
Salah satu hal mengagumkan dari Kiai Maimoen, beliau adalah sosok ilmuwan multidimensi yang menguasai banyak disiplin ilmu. Ceramahnya di berbagai tempat dan pengajiannya menunjukkan hal itu. Kitab-kitab yang ditulisnya menunjukkan kedalaman ilmu, cara pandang, dan wawasan Kiai Maimoen yang lintas disiplin ilmu. Mbah Moen juga sosok ahli sejarah, ilmu alat, fikih, ushul fikih, pembaru, sufi, ahlul kalam, pakar sanad, dan lain-lain.
Salah satu pemikiran besar Kiai Maimoen yang menghadirkan banyak pencerahan di masyarakat adalah ijtihad dalam kerangka kesatuan. Menurutnya, ijtihad antara satu ulama dengan ulama yang lain jangan sampai mengakibatkan perselisihan dan perpecahan. Sebaliknya, perbedaan pandangan dan pendapat harus semakin mengeratkan hubungan satu dengan yang lain. Masing-masing harus bisa menghargai pendapat yang didasarkan hujjah yang kuat dan benar.
baca juga: Atasi Buta Huruf Alquran, Bima Arya Gagas Program Bogor Mengaji
Namun, yang terjadi di masyarakat saat ini adalah, perbedaan pendapat justru mendatangkan permusuhan. Masing-masing mengklaim diri dan kelompoknya yang paling benar. Bahkan, ada yang menyesatkan kelompok lain karena perbedaan pandangan. Pendapatnya menjadi jalan merendahkan pendapat yang lain sehingga perpecahan dan pertengkaran tidak terhindarkan (hlm. 94).