Eksistensi Manusia di Era Digital
Sabtu, 02 Oktober 2021 - 12:41 WIB
Pada masalah politik, mesin digital dimanipulasi untuk sebuah kemenangan. Hal itu bukanlah hal sepele, sebab mesin digital dianggap sebagai kecerdasan virtual yang mirip manusia, bisa mengajak manusia yang lain menjadi brutal dan kejam. Salah satu fanatisme yang membabi buta itu merupakan dampak dari manipulasi mesin digital. Seakan ia menjadi fakta, padahal ia adalah hoax yang direproduksi.
Sementara mesin seperti youtube telah menghipnotis banyak orang untuk berlama-lama dengan komputer. Waktu yang seharusnya banyak bersama keluarga dan masyarakat tergantikan dengan alam virtual komputer. Para youtubers mengunggah berbagai konten video yang oleh Baudriliard dapat disebut dengan simulacra, ruang yang hampir tidak bisa dibedakan antara korporeal dan virtual.
baca juga: Buku Merah Jejak Pergerakan PKI di Cilenggang Tangsel
Budi Hardiman mengingatkan bahwa eksistensi manusia itu adalah hal yang sangat penting. Seraya mengutip Heiddeger dan Aristoteles, ia menegaskan harus ada filterisasi dalam arus digital 5.0 saat ini. Hal itu dapat dilakukan dengan mengambil apa yang baik di dalam teknologi. Sedangkan hal buruknya harus ditinggalkan. Ide Aristoteles tentang kesengajaan dan ketidaksengajaan dalam bertindak turut mewarnai tulisan Budi Hardiman tentang kebaikan bersama teknologi.
Sementara ide Heiddeger tentang keterlemparan manusia dalam dunia telah berubah menjadi keterlemparan dalam WWW. Saat ini frasa yang muncul adalah “Aku Klik Maka Aku Ada”. Manusia berada di dalam ruang yang sebetulnya mereka asing. Mesin seperti Cyborg suatu saat dapat menggantikan posisi manusia sebagai khalifah di dunia. Saat ini manusia diancam oleh teknologi.
baca juga: Mahasiswa UNS Kembangkan Buku Edukasi Covid-19 untuk Anak-Anak
Politisasi mesin virtual menurut Budi Hardiman tidak dapat dibenarkan, sebab yang dikejar oleh manusia adalah kebenaran. Ia bersifat universal sebagaimana berlaku di berbagai negara. Pada tahun politik kemarin, Amerika dan Indonesia memiliki kemiripan, yaitu sama-sama politisasi mesin virtual untuk memengaruhi para kaum fanatik.
Pada buku ini, Budi Hardiman membuat pemetaan masalah dengan baik dan memberikan solusi manusia era 5.0. Namun demikian, buku ini masih terlalu memberikan porsi negatif terhadap teknologi. Walaupun setidaknya Franky telah menjelaskan bahwa ada kenyamanan di dalam teknologi. Di tengah merebaknya arus informasi baik online maupun offline, kita layak membaca buku ini dan menyebarluaskan idenya.
Sementara mesin seperti youtube telah menghipnotis banyak orang untuk berlama-lama dengan komputer. Waktu yang seharusnya banyak bersama keluarga dan masyarakat tergantikan dengan alam virtual komputer. Para youtubers mengunggah berbagai konten video yang oleh Baudriliard dapat disebut dengan simulacra, ruang yang hampir tidak bisa dibedakan antara korporeal dan virtual.
baca juga: Buku Merah Jejak Pergerakan PKI di Cilenggang Tangsel
Budi Hardiman mengingatkan bahwa eksistensi manusia itu adalah hal yang sangat penting. Seraya mengutip Heiddeger dan Aristoteles, ia menegaskan harus ada filterisasi dalam arus digital 5.0 saat ini. Hal itu dapat dilakukan dengan mengambil apa yang baik di dalam teknologi. Sedangkan hal buruknya harus ditinggalkan. Ide Aristoteles tentang kesengajaan dan ketidaksengajaan dalam bertindak turut mewarnai tulisan Budi Hardiman tentang kebaikan bersama teknologi.
Sementara ide Heiddeger tentang keterlemparan manusia dalam dunia telah berubah menjadi keterlemparan dalam WWW. Saat ini frasa yang muncul adalah “Aku Klik Maka Aku Ada”. Manusia berada di dalam ruang yang sebetulnya mereka asing. Mesin seperti Cyborg suatu saat dapat menggantikan posisi manusia sebagai khalifah di dunia. Saat ini manusia diancam oleh teknologi.
baca juga: Mahasiswa UNS Kembangkan Buku Edukasi Covid-19 untuk Anak-Anak
Politisasi mesin virtual menurut Budi Hardiman tidak dapat dibenarkan, sebab yang dikejar oleh manusia adalah kebenaran. Ia bersifat universal sebagaimana berlaku di berbagai negara. Pada tahun politik kemarin, Amerika dan Indonesia memiliki kemiripan, yaitu sama-sama politisasi mesin virtual untuk memengaruhi para kaum fanatik.
Pada buku ini, Budi Hardiman membuat pemetaan masalah dengan baik dan memberikan solusi manusia era 5.0. Namun demikian, buku ini masih terlalu memberikan porsi negatif terhadap teknologi. Walaupun setidaknya Franky telah menjelaskan bahwa ada kenyamanan di dalam teknologi. Di tengah merebaknya arus informasi baik online maupun offline, kita layak membaca buku ini dan menyebarluaskan idenya.
Lihat Juga :