Level PPKM Diturunkan, Masyarakat Harus Bercermin Pada Kasus Amerika Serikat
Selasa, 24 Agustus 2021 - 14:34 WIB
Anggota Komisi IX DPR Rahmad Handoyo menilai perpanjangan ini langkah yang baik di saat pandemi belum bisa dikendalikan.Foto/SINDOnews
JAKARTA - Pemerintah memutuskan untuk tetap memperpanjang Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) berlevel hingga 30 Agustus mendatang, dan menurunkan status di DKI Jakarta dan sekitarnya menjadi level 3 karena adanya penurunan kasus.
Terkait hal ini, anggota Komisi IX DPR Rahmad Handoyo menilai perpanjangan ini langkah yang baik di saat pandemi belum bisa dikendalikan. Perpanjangan itu tentu melalui evaluasi dengan menggunakan indikator-indikator seperti BOR (Bed Occupancy Rate) rumah sakit (RS) yang turun, jumlah kematian dan jumlah kasus harian. "DKI dan sekitarnya yang turun level nggak masalah, karena memang tentu penurunan itu ada kriteria, itu paling tidak sesuai dengan apa yang ditentukan oleh pemerintah pusat," kata Rahmad saat dihubungi, Selasa (24/8/2021).
Namun, politikus PDIP ini mengingatkan kepada khususnya warga DKI dan sekitarnya, bukan berarti penurunan level itu sebagai sebuah pelonggaran yang bebas dibuka, bukan berarti bebas bergerak, lalu berpuas diri dan lengah dengan protokol kesehatan (prokes). Harus diingat bahwa situasi pandemi di Indonesia, khususnya DKI Jakarta dan sekitarnya masih sangat labil. Baca juga: PPKM Dorong Hasil Terbaik, Makin Banyak Kabupaten/Kota Turun Level
"Artinya bisa sewaktu-waktu terjadi ledakan kalau kita abai menerapkan protokol kesehatan, bahkan saya lihat di Jakarta dan sekitarnya mulai adanya mobilitas yang tinggi, ini harus hati-hati, jangan seolah-olah kita kira merasa turun, faktanya memang sudah cukup positif turun, kemudian bereuforia kemudian mobilitas tinggi, ini harus menjadi peringatan kita bersama untuk kita tetap waspada, jangan lengah," ujarnya.
Terkait hal ini, anggota Komisi IX DPR Rahmad Handoyo menilai perpanjangan ini langkah yang baik di saat pandemi belum bisa dikendalikan. Perpanjangan itu tentu melalui evaluasi dengan menggunakan indikator-indikator seperti BOR (Bed Occupancy Rate) rumah sakit (RS) yang turun, jumlah kematian dan jumlah kasus harian. "DKI dan sekitarnya yang turun level nggak masalah, karena memang tentu penurunan itu ada kriteria, itu paling tidak sesuai dengan apa yang ditentukan oleh pemerintah pusat," kata Rahmad saat dihubungi, Selasa (24/8/2021).
Namun, politikus PDIP ini mengingatkan kepada khususnya warga DKI dan sekitarnya, bukan berarti penurunan level itu sebagai sebuah pelonggaran yang bebas dibuka, bukan berarti bebas bergerak, lalu berpuas diri dan lengah dengan protokol kesehatan (prokes). Harus diingat bahwa situasi pandemi di Indonesia, khususnya DKI Jakarta dan sekitarnya masih sangat labil. Baca juga: PPKM Dorong Hasil Terbaik, Makin Banyak Kabupaten/Kota Turun Level
"Artinya bisa sewaktu-waktu terjadi ledakan kalau kita abai menerapkan protokol kesehatan, bahkan saya lihat di Jakarta dan sekitarnya mulai adanya mobilitas yang tinggi, ini harus hati-hati, jangan seolah-olah kita kira merasa turun, faktanya memang sudah cukup positif turun, kemudian bereuforia kemudian mobilitas tinggi, ini harus menjadi peringatan kita bersama untuk kita tetap waspada, jangan lengah," ujarnya.
Lihat Juga :