TB Simatupang, Tentara Intelektual yang Diolok-olok sebagai Diplomat Kesasar
Senin, 16 Agustus 2021 - 05:09 WIB
Dalam pertemuan alumni, biasanya Bonar yang paling banyak bicara dan memberikan analisis-analisis. Bahkan menurut Kawilarang, seandainya Bonar orang Belanda, dia pasti akan mendapatkan mahkota emas. Tak lama kemudian, bala tentara Kekaisaran Jepang menginvasi Hindia Belanda hingga menyerah tanpa syarat pada 8 Maret 1942.
Pasangan ini dikaruniai empat orang anak, satu diantaranya telah meninggal. Istri Simatupang merupakan adik kawan seperjuangannya yaitu Ali Budiardjo. Simatupang dan Sumarti sudah mulai akrab sewaktu berlangsung Konferensi Meja Bundar. Simatupang menempuh pendidikan dasarnya di HIS Pematang Siantar dan menyelesaikannya pada tahun 1934. Dia kemudian melanjutkan pendidikannya di MULO Tarutung dan menyelesaikannya pada 1937.
Lulus dari MULO, Simatupang lalu melanjutkan pendidikannya ke AMS di Jakarta dan menyelesaikannya pada tahun 1940. Simatupang kemudian menlanjutkan pendidikannya ke Koninkijke Militarij Acadeimie (KMA) di Bandung setelah lulus AMS. KMA merupakan suatu sekolah militer yang lulusannya akan menjadi anggota KNIL.
Dia menyelesaikan pendidikan militernya pada 1942, bertepatan dengan masuknya tentara Jepang ke Indonesia. Simatupang bersama teman-temannya kemudian ditempatkan Jepang di Resimen Pertama Jakarta dengan pangkat Calon Perwira. Di tempat ini, Simatupang berkenalan dengan tokoh-tokoh pergerakan nasional seperti Ali Budiardjo, lalu mulai aktif dalam diskusi-diskusi tentang makna perjuangan dan kemerdekaan. Baca juga: Slamet Riyadi, Gugur Tertembak di Usia 23 Tahun Jelang Operasi Berakhir
Selama perjuangan bersenjata mempertahankan kemerdekaan, Simatupang bersama Jenderal Sudirman memimpin tentara bergerilya di Jawa Tengah. Aktivitasnya ini kemudian diabadikannya dalam buku Laporan dari Banaran (1980).
Selain aktivitas perjuangan fisik, Simatupang juga aktif menjadi penasihat militer dalam perundingan-perundingan yang dilakukan Indonesia dengan Belanda, seperti dalam perundingan-perundingan yang menghasilkan Perjanjian Renville dan lantas aktif pula dalam perundingan lanjutannya di Kaliurang, 24 kilometer di utara Yogyakarta, perundingan Roem Royen.
Pada 1949, Simatupang mewakili Angkatan Bersenjata dalam delegasi Indonesia di Konferensi Meja Bundar. Misi utamanya adalah mendesak Belanda membubarkan KNIL serta mengukuhkan TNI sebagai kekuatan inti Angkatan Perang RI. Ketika Jenderal Sudirman wafat, Simatupang tidak lama kemudian dilantik sebagai Kepala Staf Angkatan Perang (KSAP) RI.
Jabatan KSAP secara hierarki organisasi pada waktu itu berada di atas Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL), Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) dan berada di bawah tanggung jawab Menteri Pertahanan (Menhan).
Terkait dengan perjuangan fisik, renungan Simatupang tentang serangan mendadak Belanda atas Yogyakarta pada 19 Desember 1948 kemudian ia tuturkan kembali dalam buku, Laporan dari Banaran: “Apakah pagi ini lonceng matinya Republik sedang dibunyikan? Atau apakah Republik sedang kita akan lulus dalam ujian ini?”.
Pertanyaan-pertanyaan itu dijawabnya sendiri dengan mengatakan: “Itu bergantung pada diri kita sendiri, kita yang menyebut diri kaum Republiken. Hari ujian bagi kita telah tiba. Apakah kita loyang? Apakah kita emas?” Kenyataannya Yogya jatuh. Presiden, Wakil Presiden dan para pemimpin lainnya telah ditawan Belanda. Seperti prajurit-prajurit yang lain, Simatupang kemudian bergerilya bersama Jenderal Sudirman.
Dalam perjalanan perang gerilya, Simatupang sering diolok-olok sebagai “diplomat kesasar” karena selama gerilya, ia hampir tidak lepas dari setelan celana abu-abu dan kemeja buatan luar negeri yang dipakainya ketika ia menjadi penasihat militer dalam perundingan Kaliurang dan pakaian itulah yang menempel di tubuhnya ketika berangkat gerilya.
Simatupang menyebut masa perjuangan kemerdekaan sebagai “loncatan pertama” dan itu sudah terlewati. Simatupang kemudian menyusun konsep memfungsikan ABRI sebagai dinamisator pembangunan di masa damai. Simatupang menyebut pemikiran ini sebagai “loncatan kedua”. Konsep inilah yang kemudian diperkenalkan AH Nasution sebagai Dwi Fungsi ABRI.
Pasangan ini dikaruniai empat orang anak, satu diantaranya telah meninggal. Istri Simatupang merupakan adik kawan seperjuangannya yaitu Ali Budiardjo. Simatupang dan Sumarti sudah mulai akrab sewaktu berlangsung Konferensi Meja Bundar. Simatupang menempuh pendidikan dasarnya di HIS Pematang Siantar dan menyelesaikannya pada tahun 1934. Dia kemudian melanjutkan pendidikannya di MULO Tarutung dan menyelesaikannya pada 1937.
Lulus dari MULO, Simatupang lalu melanjutkan pendidikannya ke AMS di Jakarta dan menyelesaikannya pada tahun 1940. Simatupang kemudian menlanjutkan pendidikannya ke Koninkijke Militarij Acadeimie (KMA) di Bandung setelah lulus AMS. KMA merupakan suatu sekolah militer yang lulusannya akan menjadi anggota KNIL.
Dia menyelesaikan pendidikan militernya pada 1942, bertepatan dengan masuknya tentara Jepang ke Indonesia. Simatupang bersama teman-temannya kemudian ditempatkan Jepang di Resimen Pertama Jakarta dengan pangkat Calon Perwira. Di tempat ini, Simatupang berkenalan dengan tokoh-tokoh pergerakan nasional seperti Ali Budiardjo, lalu mulai aktif dalam diskusi-diskusi tentang makna perjuangan dan kemerdekaan. Baca juga: Slamet Riyadi, Gugur Tertembak di Usia 23 Tahun Jelang Operasi Berakhir
Selama perjuangan bersenjata mempertahankan kemerdekaan, Simatupang bersama Jenderal Sudirman memimpin tentara bergerilya di Jawa Tengah. Aktivitasnya ini kemudian diabadikannya dalam buku Laporan dari Banaran (1980).
Selain aktivitas perjuangan fisik, Simatupang juga aktif menjadi penasihat militer dalam perundingan-perundingan yang dilakukan Indonesia dengan Belanda, seperti dalam perundingan-perundingan yang menghasilkan Perjanjian Renville dan lantas aktif pula dalam perundingan lanjutannya di Kaliurang, 24 kilometer di utara Yogyakarta, perundingan Roem Royen.
Pada 1949, Simatupang mewakili Angkatan Bersenjata dalam delegasi Indonesia di Konferensi Meja Bundar. Misi utamanya adalah mendesak Belanda membubarkan KNIL serta mengukuhkan TNI sebagai kekuatan inti Angkatan Perang RI. Ketika Jenderal Sudirman wafat, Simatupang tidak lama kemudian dilantik sebagai Kepala Staf Angkatan Perang (KSAP) RI.
Jabatan KSAP secara hierarki organisasi pada waktu itu berada di atas Kepala Staf Angkatan Darat (KSAD), Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL), Kepala Staf Angkatan Udara (KSAU) dan berada di bawah tanggung jawab Menteri Pertahanan (Menhan).
Terkait dengan perjuangan fisik, renungan Simatupang tentang serangan mendadak Belanda atas Yogyakarta pada 19 Desember 1948 kemudian ia tuturkan kembali dalam buku, Laporan dari Banaran: “Apakah pagi ini lonceng matinya Republik sedang dibunyikan? Atau apakah Republik sedang kita akan lulus dalam ujian ini?”.
Pertanyaan-pertanyaan itu dijawabnya sendiri dengan mengatakan: “Itu bergantung pada diri kita sendiri, kita yang menyebut diri kaum Republiken. Hari ujian bagi kita telah tiba. Apakah kita loyang? Apakah kita emas?” Kenyataannya Yogya jatuh. Presiden, Wakil Presiden dan para pemimpin lainnya telah ditawan Belanda. Seperti prajurit-prajurit yang lain, Simatupang kemudian bergerilya bersama Jenderal Sudirman.
Dalam perjalanan perang gerilya, Simatupang sering diolok-olok sebagai “diplomat kesasar” karena selama gerilya, ia hampir tidak lepas dari setelan celana abu-abu dan kemeja buatan luar negeri yang dipakainya ketika ia menjadi penasihat militer dalam perundingan Kaliurang dan pakaian itulah yang menempel di tubuhnya ketika berangkat gerilya.
Simatupang menyebut masa perjuangan kemerdekaan sebagai “loncatan pertama” dan itu sudah terlewati. Simatupang kemudian menyusun konsep memfungsikan ABRI sebagai dinamisator pembangunan di masa damai. Simatupang menyebut pemikiran ini sebagai “loncatan kedua”. Konsep inilah yang kemudian diperkenalkan AH Nasution sebagai Dwi Fungsi ABRI.
Lihat Juga :