Obat untuk Terapi COVID-19 Langka, Menkes Harusnya Minta Maaf ke Rakyat
Sabtu, 31 Juli 2021 - 21:46 WIB
Dia menegaskan Menkes seharusnya bisa menterjemahkan apa yang diinginkan Presiden Jokowi. Bukan malahan Presiden yang harus sampai memantau stok obat di level apotek.
“Menteri itu pembantu Presiden, jangan hanya memonitor kondisi lapangan secara virtual, melalui zoom saja. Datangi rumah sakit dan apotek-apotek. Tidak etis Presiden harus turun jauh ke bawah, sedangkan itu kan tanggung jawab Menteri Kesehatan,” tandas Jay.
Soal tingginya angka kematian karena COVID 19 di Indonesia belakangan ini, menurut Jay Octa, tidak bisa dilepaskan dari peran Kementerian Kesehatan (Kemenkes). “Tingkat kematian murni tanggung jawab Kemenkes sebagai leading sector penanganan teknis. Menkes jangan cuci tangan mencari kambing hitam, “ kata Jay. Baca juga: Varian Baru Terus Bermunculan, CDC Akhirnya Buka-Bukaan Soal Vaksin COVID-19
Kemenkes, lanjut Jay, juga mesti memberi perhatian lebih pada pasien COVID-19 yang melakukan isolasi mandiri. “Karena banyak dari mereka yang melakukan isoman yang akhirnya tidak tertolong,” pungkasnya.
“Menteri itu pembantu Presiden, jangan hanya memonitor kondisi lapangan secara virtual, melalui zoom saja. Datangi rumah sakit dan apotek-apotek. Tidak etis Presiden harus turun jauh ke bawah, sedangkan itu kan tanggung jawab Menteri Kesehatan,” tandas Jay.
Soal tingginya angka kematian karena COVID 19 di Indonesia belakangan ini, menurut Jay Octa, tidak bisa dilepaskan dari peran Kementerian Kesehatan (Kemenkes). “Tingkat kematian murni tanggung jawab Kemenkes sebagai leading sector penanganan teknis. Menkes jangan cuci tangan mencari kambing hitam, “ kata Jay. Baca juga: Varian Baru Terus Bermunculan, CDC Akhirnya Buka-Bukaan Soal Vaksin COVID-19
Kemenkes, lanjut Jay, juga mesti memberi perhatian lebih pada pasien COVID-19 yang melakukan isolasi mandiri. “Karena banyak dari mereka yang melakukan isoman yang akhirnya tidak tertolong,” pungkasnya.
(kri)
Lihat Juga :