Soal Pasokan Oksigen, Menko PMK: Kalau Dihitung Cukup, Kenyataannya Kurang
Rabu, 07 Juli 2021 - 15:53 WIB
Ia menjabarkan kalau kemiskinan kultural bisa diatasi dengan perubahan perilaku, sedangkan kemiskinan struktural diatur dengan tindakan-tindakan yang bersifat struktural seperti mengubah Surat Keputusan (SK) atau melalui tindakan kohersif. "Tapi yang spasial ini sulitnya bukan main karena kita terlambat dibandingkan negara-negara lain karena kita terdiri dari kepulauan-kepulauan kecil. Jadi kalau ada orang miskin meskipun hanya 50 di pulau terpencil itu akan lebih sulit dan membutuhkan COR lebih tinggi dibandingkan daerah-daerah yang lebih mudah dijangkau," ungkapnya. Baca juga: Ketua DPD Sarankan Pemerintah Siapkan Skenario Baru Antisipasi Lonjakan Covid-19
Namun sayang, jelas Menko PMK, kebijakan-kebijakan yang ada saat ini belum benar-benar menyentuh atau selaras dengan realita yang ada di lapangan. Diantaranya yaitu kebijakan yang hanya mengacu pada data kuantitatif. Padahal, ia menilai pendekatan kualitatif meskipun mungkin tidak dapat menarik kesimpulan secara pasti, namun dengan melihat persoalan satu kasus secara mendalam akan mampu merepresentasi kasus-kasus lain yang mungkin terjadi di tempat lain.
Ia pun kembali memberikan gambaran bahwa di saat sekarang ini banyak RS yang mengeluhkan kekurangan oksigen. Dengan meninjau langsung salah satu lokasi produksi oksigen yang ada di Tanah Air, Menko PMK dapat menarik kesimpulan masalah yang dihadapi di lapangan serta melaporkan kepada presiden dan kemudian langsung dicarikan solusi. "Tapi kalau pendekatannya kuantitatif kita tidak akan benar-benar tahu karena perhitungannya juga dari atas meja. Kalau hitungan kebutuhan oksigennya sekian dan ketersediaan sekian artinya cukup, padahal di lapangan kenyataannya orang-orang masih sangat kekurangan oksigen," tandasnya.
Sehingga demikian, tandas Muhadjir, untuk mengatasi persoalan bangsa diperlukan strategi dan terutama tindakan nyata di lapangan. Termasuk dalam upaya pembangunan sumber daya manusia dan kebudayaan Indonesia yang lebih kuat.
Namun sayang, jelas Menko PMK, kebijakan-kebijakan yang ada saat ini belum benar-benar menyentuh atau selaras dengan realita yang ada di lapangan. Diantaranya yaitu kebijakan yang hanya mengacu pada data kuantitatif. Padahal, ia menilai pendekatan kualitatif meskipun mungkin tidak dapat menarik kesimpulan secara pasti, namun dengan melihat persoalan satu kasus secara mendalam akan mampu merepresentasi kasus-kasus lain yang mungkin terjadi di tempat lain.
Ia pun kembali memberikan gambaran bahwa di saat sekarang ini banyak RS yang mengeluhkan kekurangan oksigen. Dengan meninjau langsung salah satu lokasi produksi oksigen yang ada di Tanah Air, Menko PMK dapat menarik kesimpulan masalah yang dihadapi di lapangan serta melaporkan kepada presiden dan kemudian langsung dicarikan solusi. "Tapi kalau pendekatannya kuantitatif kita tidak akan benar-benar tahu karena perhitungannya juga dari atas meja. Kalau hitungan kebutuhan oksigennya sekian dan ketersediaan sekian artinya cukup, padahal di lapangan kenyataannya orang-orang masih sangat kekurangan oksigen," tandasnya.
Sehingga demikian, tandas Muhadjir, untuk mengatasi persoalan bangsa diperlukan strategi dan terutama tindakan nyata di lapangan. Termasuk dalam upaya pembangunan sumber daya manusia dan kebudayaan Indonesia yang lebih kuat.
(cip)
Lihat Juga :