Agama Solusi Permasalahan di Dunia

Jum'at, 02 Juli 2021 - 20:59 WIB
Sementara itu, Prof I Gede Itana mengutarakan, dalam agama Hindu terdapat dua tugas utama yaitu Dharma agama dan Dharma Negara. Keduanya tidak boleh dikotomikan, melainkan harus berjalan seiringan. Dia juga mengatakan, dalam kitab-kita weda, jelas sekali toleransi dan penghargaan kepada orang lain apapun kepercayaannya merupakan hal yang sangat mendasar. Bisa dilihat pada candi dan pura Hindu, pasti ada sesembahan dewa selain Hindu sebagai tanda sebagai agama yang sangat penuh toleransi.

"Pada agama Hindu, kami tidak pernah memerekakan pemeluk agama lain. Melainkan kekitaan. Kami memanggil saudara muslim kami dengan sebutan saudara kita yang Istilahnya disebut nyame. Kami memanggil nyame Islam," katanya.

Menurut Biksu Nyanabandhu Shakya (Bumansah), Budha mengatakan bahwa umatnya harus hadir dengan cara pandang yang tidak diskriminatif walaupun dengan berbagai macam perbedaan. Dalam salah satu khotbah Budha, seseorang harus mampu menghadirkan dirinya tanpa mengharap orang lain celaka.

Baca juga: Pendataan lewat FKUB, Cara Kemenag Atasi Intoleransi Beragama



Bumansah mengatakan, pilar asoka adalah bagaimana memunculkan ajaran Budha tentang toleransi. Dengan membantu agama Budha, maka seseorang tidak akan merugikan agama lain. "Pendekatan-pendekatan yang diberikan Budha sangat mendasar dan mencerminkan dengan tanpa kekerasan. Budha menentang perbedaan status sosial yang ada di masyarakat," katanya.

Paus Menjunjung Toleransi

FX Wahyu Tri Wibowo mengutarakan, pernyataan Paus dalam dokumen Abu Dhabi merupakan bukti kuat bahwa Agama Katolik sangat menjunjung tinggi toleransi. Menurut Wahyu, agama Katolik mengajari, kasihilah sesamamu seperti mengasihi diri sendiri. "Bagaikan cermin. Manusia yang lain merupakan diri kita yang lain maka harus kita hormati," katanya.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!