Membangun Personal Branding Remaja Milenial di Era Digital
Kamis, 10 Juni 2021 - 05:55 WIB
Aurelia Abida Kurniawan. FOTO/DOK.PRIBADI
Aurelia Abida Kurniawan
Mahasiswi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang
DI ERA digital saat ini, personal branding masih sedikit banyak dipahami oleh para remaja milenial di Indonesia. Kata digital dan milenial sangat sulit dipisahkan karena kedua kata tersebut sangat bereratan maknanya. Meskipun personal branding sudah ada sejak zaman dulu, namun di era digital ini tahapan personal branding sudah menjadi hal yang cukup lumrah terutama melalui internet. Di Indonesia sendiri, melalui data Pemerintah terhitung jumlah pengguna internet mencapai 132 juta. Angka ini menunjukkan bahwa lebih dari 50% penduduk di Indonesia memiliki akses yang mudah ke internet.
Di era persaingan tak "kasat mata" ini, semakin banyak orang memiliki keterampilan yang sama. Oleh karena itu, para remaja milenial perlu membangun personal branding untuk mengenalkan keahlian dirinya sendiri agar bisa menonjol dari keahlian orang lain. Dengan membangun personal branding dapat meningkatkan nilai jual pengetahuan dan profesionalitas seseorang dalam dunia kerja. Hal ini terjadi karena standar diri seseorang dijadikan acuan untuk mengembangkan diri sesuai dengan potensi yang dimiliki. Personal branding di sini adalah nilai skill, karakter kepribadian yang kuat, kemampuan memimpin akan menjadi nilai tambah dibandingkan orang lain. Fuady (2002) menunjukkan bahwa kemajuan teknologi komunikasi telah menghilangkan hambatan dan jarak yang membatasi individu satu sama lain. Ini juga merupakan kesempatan untuk terhubung dengan individu lain yang memiliki minat yang sama di bidang tertentu. Sasaran, prospek karier seseorang semakin lebar dan luas.
Mahasiswi Hubungan Internasional Universitas Muhammadiyah Malang
DI ERA digital saat ini, personal branding masih sedikit banyak dipahami oleh para remaja milenial di Indonesia. Kata digital dan milenial sangat sulit dipisahkan karena kedua kata tersebut sangat bereratan maknanya. Meskipun personal branding sudah ada sejak zaman dulu, namun di era digital ini tahapan personal branding sudah menjadi hal yang cukup lumrah terutama melalui internet. Di Indonesia sendiri, melalui data Pemerintah terhitung jumlah pengguna internet mencapai 132 juta. Angka ini menunjukkan bahwa lebih dari 50% penduduk di Indonesia memiliki akses yang mudah ke internet.
Di era persaingan tak "kasat mata" ini, semakin banyak orang memiliki keterampilan yang sama. Oleh karena itu, para remaja milenial perlu membangun personal branding untuk mengenalkan keahlian dirinya sendiri agar bisa menonjol dari keahlian orang lain. Dengan membangun personal branding dapat meningkatkan nilai jual pengetahuan dan profesionalitas seseorang dalam dunia kerja. Hal ini terjadi karena standar diri seseorang dijadikan acuan untuk mengembangkan diri sesuai dengan potensi yang dimiliki. Personal branding di sini adalah nilai skill, karakter kepribadian yang kuat, kemampuan memimpin akan menjadi nilai tambah dibandingkan orang lain. Fuady (2002) menunjukkan bahwa kemajuan teknologi komunikasi telah menghilangkan hambatan dan jarak yang membatasi individu satu sama lain. Ini juga merupakan kesempatan untuk terhubung dengan individu lain yang memiliki minat yang sama di bidang tertentu. Sasaran, prospek karier seseorang semakin lebar dan luas.
Lihat Juga :