Sudahi Informasi Hoaks Seputar Pembatalan Haji

Selasa, 08 Juni 2021 - 05:51 WIB
Di luar Haikal Hassan, masih banyak yang intens menyebarkan kabar palsu ini tanpa disertai proses tabayyun (klarifikasi). Pun jika menengok ranah jagat maya, kita bisa melihat seolah informasi hoaks ini sengaja diamplifikasi oleh sekelompok pihak tertentu. Indikasi ini bisa dilihat seperti pada indeks trending topic, most popular news dan sebagainya.

Kita sedih sekaligus prihatin dengan fenomena ini. Sedih karena para penyebar ini sejatinya paham bahwa informasi yang disebarkan adalah palsu. Prihatin karena dari ulah mereka, dampak yang ditimbulkan begitu luas. Tak sekadar aspek sosial. Pada level tertentu, informasi hoaks berbahaya bagi ketahanan dan keamanan bangsa.

Munculnya berita hoaks ini sangat kita sesalkan. Di tengah ujian besar bangsa dan dunia ini menghadapi wabah Covid-19, semestinya yang dikedepankan adalah sikap saling menghargai, membantu dan bersinergis. Tanpa itu, kita akan menjadi manusia yang kerdil. Cara berpikir picik apalagi ego sektoral jelas berbahaya karena menggerogoti keutuhan bangsa.

Pada tahun ini, pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) memang telah membatalkan lagi keberangkatan haji. Pilihan ini, seperti dikatakan Menteri Agama Yaqut Cholil Qoumas memang pahit, namun harus diambil. Soal pilihan ini dianggap tepat atau tidak memang itu debatable. Namun tentu langkah Kemenag tidak sembrono. Apalagi di belakang keputusan penting ini ada nasib jutaan calon jamaah haji, termasuk yang antreannya harus bertambah panjang.

Di luar persiapan seperti melakukan sejumlah skenario pemberangkatan, Kemenag sudah melakukan rapat rutin dengan DPR, MUI, tokoh masyarakat, asosiasi travel dan diplomasi kenegaraan sebelum mencetuskan pilihan ini. Dan ketika pilihan batal diambil, itu hakikatnya rumusan terbaik dari proses diskursif yang berjalan panjang. Dan, di atas segala alasan yang menyertainya, keselamatan jiwa calon jamaah haji kita adalah menjadi segalanya. Berangkat haji tentu tak sekadar bertolak ke Tanah Suci untuk menjalankan dari sisi syariat. Namun di dalamnya juga ada hal teknis yang tak bisa dianggap enteng. Apalagi, dengan waktu yang kian mepet saat ini. Mudarat paling ringan tentu menjadi pertimbangan utamanya.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!