Cholil Nafis Sebut Pilihan Al-Qur'an atau Pancasila adalah Pertanyaan Konyol
Jum'at, 04 Juni 2021 - 07:37 WIB
Ketua MUI Cholil Nafis mengkritisi TWK pegawai KPK sebagai bagian dari rangkaian proses alih status menjadi ASN. FOTO/Instagram Cholil Nafis
JAKARTA - Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Cholil Nafis mengkritisi tes wawasan kebangsaan (TWK) pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) sebagai bagian dari rangkaian proses alih status menjadi Aparatur Sipil Negara (ASN). Di mana salah satunya diminta memilih Pancasila atau Al-Qur'an.
Pengasuh Pesantren Cendekia Amanah, Depok, Jawa Barat itu meminta untuk tidak meminggirkan Al-Qur'an menjadi wilayah privat dan Pancasila ke dalam wilayah publik. Menurut Cholil Nafis, keduanya bisa diamalkan secara bersamaan, baik privat maupun publik.
"Nilai pancasila spiritnya al-Qur'an. Berarti al-Qur'an ya inspirasi dan aspirasi. Pacasila bukan agama tapi isinya dijuwai agama," tulis Cholil Nafis di akun Twitter pribadinya, @cholilnafis, Jumat (4/6/2021).
Baca juga: 75 Pegawai KPK Mengajukan Judicial Review ke MK
Pengasuh Pesantren Cendekia Amanah, Depok, Jawa Barat itu meminta untuk tidak meminggirkan Al-Qur'an menjadi wilayah privat dan Pancasila ke dalam wilayah publik. Menurut Cholil Nafis, keduanya bisa diamalkan secara bersamaan, baik privat maupun publik.
"Nilai pancasila spiritnya al-Qur'an. Berarti al-Qur'an ya inspirasi dan aspirasi. Pacasila bukan agama tapi isinya dijuwai agama," tulis Cholil Nafis di akun Twitter pribadinya, @cholilnafis, Jumat (4/6/2021).
Baca juga: 75 Pegawai KPK Mengajukan Judicial Review ke MK
Lihat Juga :