Megawati Soekarnoputri Diplot di BRIN, Mardani PKS Nilai Bukan Contoh Baik
Senin, 03 Mei 2021 - 15:32 WIB
Menurut dia, secara fundamental perlu memiliki pirinsip bersama, bangsa ini akan maju apabila pengetahuan menjadi modal utamanya. "Harus jadi isu publik, mulai dari level RT hingga Presiden pikiran nya mesti tentang pengetahuan," ujarnya.
Dia melanjutkan, satu hal yang mesti diingat, selama kultur riset ini tidak dimasukkan pada kurikulum dasar kita, maka BRIN berpotensi gagal. "Inovasi artinya ide, maka pastikan dulu kurikulum pendidikan negara kita memang tumbuh untuk menghasilkan peneliti-peneliti yang mumpuni," ungkapnya.
Baca juga: Usai Dilantik Jokowi, Simak Janji Kepala BRIN Laksana Tri Handoko
Lalu, dia menambahkan, jika berkaca pada negara-negara tetangga, mereka lebih mendorong kontribusi swasta itu lebih besar. "Indonesia lebih dari 11 tahun budget risetnya masih sangat kecil, sekitar 0,82% dan itu tidak bergerak rasio terhadap PDB. Sementara di Cina sudah 2,2%, bahkan Amerika dan Jepang hampir 4%," jelasnya.
Dia berpendapat, membuat sebuah riset harus lah tuntas. "Terkadang keliru karena orientasi kita terhadap riset hanya untuk membuat sebuah kebijakan. Padahal riset itu bagaimana berkontribusi, pertama secara akademis, kemudian kontribusi untuk sektor bisnis, dalam arti inovasi. Baru yang ketiga kita berbicara tentang kebijakan," ujarnya.
Dia melanjutkan, satu hal yang mesti diingat, selama kultur riset ini tidak dimasukkan pada kurikulum dasar kita, maka BRIN berpotensi gagal. "Inovasi artinya ide, maka pastikan dulu kurikulum pendidikan negara kita memang tumbuh untuk menghasilkan peneliti-peneliti yang mumpuni," ungkapnya.
Baca juga: Usai Dilantik Jokowi, Simak Janji Kepala BRIN Laksana Tri Handoko
Lalu, dia menambahkan, jika berkaca pada negara-negara tetangga, mereka lebih mendorong kontribusi swasta itu lebih besar. "Indonesia lebih dari 11 tahun budget risetnya masih sangat kecil, sekitar 0,82% dan itu tidak bergerak rasio terhadap PDB. Sementara di Cina sudah 2,2%, bahkan Amerika dan Jepang hampir 4%," jelasnya.
Dia berpendapat, membuat sebuah riset harus lah tuntas. "Terkadang keliru karena orientasi kita terhadap riset hanya untuk membuat sebuah kebijakan. Padahal riset itu bagaimana berkontribusi, pertama secara akademis, kemudian kontribusi untuk sektor bisnis, dalam arti inovasi. Baru yang ketiga kita berbicara tentang kebijakan," ujarnya.
Lihat Juga :