Tiga Ciri Pemilu 2024: Pandemi, Resesi, Suksesi

Jum'at, 23 April 2021 - 22:12 WIB
Founder and CEO PolMark Indonesia ini menjelaskan, dalam survei yang dilakukan pihaknya bersama Partai Persatuan Pembangunan (PPP) pada November 2020, sebanyak 82 persen pemilih di Indonesia mengaku turun penghasilannya secara signifikan. Lalu, sebanyak 72 persen pemilih mengaku ekonomi dan kehidupan keluarganya sehari-hari merosot secara tajam, memburuk secara signifikan. Dan, 37 persen pemilih mengaku dirinya dan keluarganya kehilangan pekerjaan.

"Dengan demikian bisa tergambar oleh kita seperti apa kesulitan hidup, terutama di bidang ekonomi, yang dialami oleh masyarakat ketika menghadapi Pemilu 2024," ujarnya.

Baca juga: Solidnya PKS-Demokrat Kabar Baik bagi Masa Depan Demokrasi

Terkait suksesi, Eep mengatakan, politik Indonesia ditandai oleh siklus yang unik sejak adanya pemilihan presiden langsung pada 2004. Kata dia, setiap lima tahun sekali demam, setiap sepuluh tahun sekali kejang-kejang.

"Demam karena ada pemilu presiden yang biasanya jadi daya magnet elektoral yang terbesar, sulit dibantah itu. Dan setiap sepuluh tahun, presiden harus berganti karena Konstitusi hanya membolehkan yang bersangkutan sebagai presiden dua periode saja. Dan pada saat itu, demam meningkat menjadi kejang-kejang. Nah 2024 itu bukan lagi demam seperti Pemilu 2019, ini pemilu kejang-kejang dari sisi suksesi. Jadi, pandemi, resesi, dan suksesi menjadi ciri penting dari Pemilu 2024," jelasnya.
(zik)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!