Soal Partai Koalisi Islam yang Diusulkan Yusril, Begini Analisa Refly Harun
Jum'at, 16 April 2021 - 13:48 WIB
Mengomentari hal tersebut, Refly mengatakan, ini memang membutuhkan suatu pembahasan UU yang alot. "Dan saya yakin partai-partai nasionalis tidak mau karena itu sama saja membuka peluang anak macan menjadi besar. Karena bagi partai-partai nasionalis, yang mereka khawatirkan adalah bersatunya partai-partai Islam, bersatunya mereka yang berbasis massa Islam, dan kemudian menjadi kekuatan utama politik lagi di Republik Indonesia," jelas Refly dalam video berjudul POROS PARTAI ISLAM 2024!! GABUNG?! yang tayang di Channel YouTube Refly Harun, Kamis (15/4/2021).
Refly menjelaskan, pada dasarnya pada tahun 1955, ketika pemilu pertama diadakan, partai-partai Islam dan berbasis massa Islam, cukup mendominasi. Dalam empat besar hasil pemilu ada dua partai besar Islam yang cukup mendominasi yakni Masyumi dan NU.
Baca juga: PAN Tidak Akan Ikut Poros Islam di Pemilu 2024, Ini Alasannya
"Persatuan menjadi penting, agar gelombang atau perahu nakhoda ini tidak terlalu condong ke kiri karena bagaimanapun kita membutuhkan keseimbangan di dalam politik kita ke depan ini. Sebagaimana the founding parents kita membangun Indonesia ini dengan perimbangan dua kelompok, kelompok agama dan kelompok nasionalis. Jadi, tidak boleh ada satu kelompok yang sangat dominan sehingga yang muncul justru misalnya Islamofobia," jelasnya.
Refly menjelaskan, pada dasarnya pada tahun 1955, ketika pemilu pertama diadakan, partai-partai Islam dan berbasis massa Islam, cukup mendominasi. Dalam empat besar hasil pemilu ada dua partai besar Islam yang cukup mendominasi yakni Masyumi dan NU.
Baca juga: PAN Tidak Akan Ikut Poros Islam di Pemilu 2024, Ini Alasannya
"Persatuan menjadi penting, agar gelombang atau perahu nakhoda ini tidak terlalu condong ke kiri karena bagaimanapun kita membutuhkan keseimbangan di dalam politik kita ke depan ini. Sebagaimana the founding parents kita membangun Indonesia ini dengan perimbangan dua kelompok, kelompok agama dan kelompok nasionalis. Jadi, tidak boleh ada satu kelompok yang sangat dominan sehingga yang muncul justru misalnya Islamofobia," jelasnya.
(zik)
Lihat Juga :