BKKBN Gandeng BIG Benahi Data Kependudukan Indonesia
Rabu, 20 Mei 2020 - 05:05 WIB
Terkait dengan urusan reproduksi dan keluarga berencana, kata Hasto, tanpa lokasi yang valid maka data tidak ada artinya. Oleh karena itu, BKKBN memakai data mikro keluarga sebagai unit terkecilnya. “Data menjadi sangat penting, tanpa potret keluarga pun kita tidak bisa bicara apa apa. Keluarga jika tidak didiagnosis by name by address maka treatment-nya tidak akan maksimal,” ujar Hasto.
Sementara itu, Kepala BIG Hasanuddin Z Abidin menilai data kependudukan sangat penting dalam berbagai aspek pembangunan. Sebab, semua proses pembangunan itu melibatkan manusia. “Jika tidak ada penduduk, maka proses pembangunan akan kehilangan maknanya. Tanpa lokasi data kependudukan masih kurang,” imbuh Hasanuddin.
Menurut informasi, BKKBN akan melakukan pendataan keluarga pada tahun depan dengan memotret 65 juta keluarga. Satu persatu keluarga akan dikunjungi dan didata melalui sistem informasi geografis (GIS). Pendataan itu melibatkan sekitar 24.000 petugas KB yang tersebar di kecamatan dan desa di seluruh Indonesia. Data itu kemudian dipadukan dengan Sistem Informasi Keluarga (SIGA). “Dengan begitu, masalah stunting, kematian ibu dan bayi, kontrasepsi bisa dipetakan dengan baik. Berharap dengan kerja sama ini, Bangga Kencana ikut menciptakan generasi unggul dan bonus demografi bisa tercapai,” ujar Hasto.
Sementara itu, Kepala BIG Hasanuddin Z Abidin menilai data kependudukan sangat penting dalam berbagai aspek pembangunan. Sebab, semua proses pembangunan itu melibatkan manusia. “Jika tidak ada penduduk, maka proses pembangunan akan kehilangan maknanya. Tanpa lokasi data kependudukan masih kurang,” imbuh Hasanuddin.
Menurut informasi, BKKBN akan melakukan pendataan keluarga pada tahun depan dengan memotret 65 juta keluarga. Satu persatu keluarga akan dikunjungi dan didata melalui sistem informasi geografis (GIS). Pendataan itu melibatkan sekitar 24.000 petugas KB yang tersebar di kecamatan dan desa di seluruh Indonesia. Data itu kemudian dipadukan dengan Sistem Informasi Keluarga (SIGA). “Dengan begitu, masalah stunting, kematian ibu dan bayi, kontrasepsi bisa dipetakan dengan baik. Berharap dengan kerja sama ini, Bangga Kencana ikut menciptakan generasi unggul dan bonus demografi bisa tercapai,” ujar Hasto.
(cip)
Lihat Juga :