Pesantren, Pembangunan Pendidikan, dan Tantangan Pandemi

Kamis, 25 Maret 2021 - 05:10 WIB
Sebelum terintroduksinya peran negara dan sekolah formal, kualitas santri bukan didasarkan pada cetakan ijazah, tetapi pada kapabilitas santri dalam penguasaan ilmu-ilmu agama dan kemampuan mengajak masyarakat untuk memanfaatkan berbagai potensi yang ada di lingkungan masing-masing. Bahkan tanpa legitimasi ijazah, lulusan pesantren hadir untuk menemani umat memecahkan persoalan keseharian.

Ketika pendidikan modern bicara soal pentingnya karakter, penguatan hard skill dan soft skill, kemampuan adaptasi dan kolaborasi, pesantren-pesantren sudah sejak awal menginternalisasikan kompetensi tersebut dalam program rutin atau aktivitas harian. Poin-poin tersebut sudah menjadi school culture dari pesantren. Apalagi dalam berbagai pengajian di pesantren terdapat narasi utama tentang pentingnya kebermanfaatan manusia bagi manusia lain di dalam kehidupan keseharian sehingga eksistensi lulusan pesantren sangat erat kaitannya dengan kontribusi mereka bagi kehidupan masyarakat. Tidak hanya sebagai pengayom keagamaan, tetapi juga di berbagai bidang kehidupan.

Tidak mengherankan jika Ki Hadjar Dewantara (Majelis Luhur Persatuan Taman Siswa, 2013) sangat terkagum-kagum dengan pola asrama ala pesantren. Pola didikan pondok, dalam bahasa Ki Hadjar Dewantara, merupakan pedagogik yang hidup, tidak semata berbasis pada ragam buku teks. Anak-anak yang dididik akan selalu merasa menjadi bagian dari rakyat dan sadar akan eksistensi kemanusiaannya sebab mereka dididik bersama rakyat.

Pada laporan sebuah majalah berjudul Indonesia dan Seribu Wajah Pesantren (2019) dipaparkan, ragam varian pesantren di negeri ini dan menunjukkan bukti bahwa pesantren tidak hanya bicara aspek keagamaan yang ritual. Pengembangan jejaring bisnis, kesempatan bekerja selama di pesantren, pelatihan kewirausahaan, kepedulian terhadap isu ekologis, merupakan hal yang juga jadi konsumsi santri di samping pembelajaran yang berbasis pada penguatan keagamaan.

Ekosistem pendidikan yang teratur, mandiri, dan berbasis pada peran kiai yang menjadi role model utama pendidikan di pesantren, tidak ada contoh mengawang-ngawang, semua aktual diteladankan di hadapan para santri. Selain itu, keeratan dengan masyarakat di masa santri tinggal, khusus untuk pesantren-pesantren tradisional, menjadi kekuatan agar santri tetap memiliki kepedulian terhadap isu-isu sosial kemasyarakatan. Pola pendidikan yang dekat dan erat dengan masyarakat memiliki keunggulan, yaitu tidak tercerabutnya para santri dari konteks sosial.

Didikan tersebut ternyata sangat bermanfaat bagi santri dalam menyambut era ketidakpastian. Secara kolektif, kekuatan jaringan santri yang menyebar di seluruh pelosok negeri menjadi hal yang sangat baik ketika bicara penyebaran pengetahuan dan keterampilan. Polesan teknologi dan tradisi pendidikan modern, dengan dosis yang tepat, membuat para santri menjadi lebih cemerlang.

Selain itu, tradisi diskusi di pesantren dengan basis argumentasi kuat menggunakan kitab-kitab rujukan ulama besar menjadi bagian penting bagi peran santri mewarnai diskursus publik yang lebih berwarna dan dapat dipertanggungjawabkan. Santri menjadi lebih siap dalam menghadapi ragam perbedaan dan berjumpa ide dengan ragam pihak. Poin tersebut menjadi pengokoh Indonesia yang lebih beragam. Jika menggunakan terminologi Paulo Freire, dalam pendidikan pesantren dilakukan pendidikan hadap masalah (problem posing).
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!