Sekolah Tatap Muka Makin di Depan Mata
Selasa, 23 Maret 2021 - 06:28 WIB
Meski banyak daerah dan sekolah seolah tak sabar dengan pembelajaran tatap muka ini, sebagian masyarakat masih ada yang melihat belum ada urgensi sistem tatap muka ini harus dijalankan. Namun pro-kontra di tengah masyarakat hakikatnya adalah hal biasa. Faseini harus dipahami positif dalam kerangka untuk menemukan formula yang benar-benar dikehendaki publik. Semakin proses diskusi di tengah polemik tersebut bisa berlangsung intensif, niscaya akan menghasilkan rumusan-rumusan yang tepat. Setidaknya nanti kebijakan bisa menjadi lebih kuat lantaran mampu menjangkar (anchor) dengan kebutuhan riil masyarakat.
Apa pun pro-kontra yang masih melingkupinya, yang jelas menguatnya dorongan agar sekolah bisa dijalankan dengan tatap muka lagi di tengah pandemi ini patut direspons secara baik. Mendikbud Nadiem Makarim bahkan belum lama ini telah memberi lampu hijau digelarnya sekolah tatap muka ini meski akan diikuti dengan sejumlah opsi.
Kebijakan Nadiem ini berani sekaligus strategis. Berani karena melakukan terobosan kebijakan di tengah situasi yang hakikatnya tidak pasti dan ideal. Nadiem dan tim Kemendikbud pasti tidak ceroboh. Mereka telah melihat situasi di lapangan yang mendorong kuat sistem pembelajaran perlu mendesak ditata lagi lantaran modelonlinekurang efektif. Di sisi lain kebijakan ini juga sangat strategis untuk tetap mewujudkan generasi anak bangsa yang berkualitas. Meski pandemi belum berakhir, kita diajak untuk berpikir tidak pasif, bahkan tak berada di zona ketakutan yang berlebihan. Dengan membuka lagi tatap muka, upaya proses mencerdaskan kehidupan bangsa akan bergerak lagi. Kekhawatiran masuk dalamloss generationpun bisa dicegah. Upaya berani ini pun sudah diikuti dengan langkah strategis seperti penguatan kesehatan siswa, pendidik dan tenaga kependidikan lewat vaksinasi massal, pemenuhan media belajar sesuai dengan protokol kesehatan Covid-19 dan sebagainya.
Munculnya dorongan agar sekolah tatap muka dibuka kembali juga menggambarkan adanya kesadaran baru bersama baik itu pemerintah pusat, daerah, sekolah, pendidik maupun orang tua siswa dan siswa untuk melahirkan kembali model pendidikan yang tepat. Cara pembelajaran ini sangat mungkin berbeda dengan kondisi sebelumnya dan bisa jadi praktiknya berbeda pula dengan negara-negara lain yang mulai menerapkan cara tak jauh beda. Sebab situasi teknologi dan sosio-geografis di Indonesia tidak sama dengan negara lain.
Meski demikian kebijakan tatap muka sulit tanpa cela. Untuk meminimalisasinya pemerintah dan otoritas terkait perlu menyiapkan mitigasi yang jelas. Simulasi, monitoring, dan evaluasi juga patut runtut dilakukan agar kebijakan ini benar-benar memberikan kemudahan serta menciptakan pendidikan yang menyenangkan.
Apa pun pro-kontra yang masih melingkupinya, yang jelas menguatnya dorongan agar sekolah bisa dijalankan dengan tatap muka lagi di tengah pandemi ini patut direspons secara baik. Mendikbud Nadiem Makarim bahkan belum lama ini telah memberi lampu hijau digelarnya sekolah tatap muka ini meski akan diikuti dengan sejumlah opsi.
Kebijakan Nadiem ini berani sekaligus strategis. Berani karena melakukan terobosan kebijakan di tengah situasi yang hakikatnya tidak pasti dan ideal. Nadiem dan tim Kemendikbud pasti tidak ceroboh. Mereka telah melihat situasi di lapangan yang mendorong kuat sistem pembelajaran perlu mendesak ditata lagi lantaran modelonlinekurang efektif. Di sisi lain kebijakan ini juga sangat strategis untuk tetap mewujudkan generasi anak bangsa yang berkualitas. Meski pandemi belum berakhir, kita diajak untuk berpikir tidak pasif, bahkan tak berada di zona ketakutan yang berlebihan. Dengan membuka lagi tatap muka, upaya proses mencerdaskan kehidupan bangsa akan bergerak lagi. Kekhawatiran masuk dalamloss generationpun bisa dicegah. Upaya berani ini pun sudah diikuti dengan langkah strategis seperti penguatan kesehatan siswa, pendidik dan tenaga kependidikan lewat vaksinasi massal, pemenuhan media belajar sesuai dengan protokol kesehatan Covid-19 dan sebagainya.
Munculnya dorongan agar sekolah tatap muka dibuka kembali juga menggambarkan adanya kesadaran baru bersama baik itu pemerintah pusat, daerah, sekolah, pendidik maupun orang tua siswa dan siswa untuk melahirkan kembali model pendidikan yang tepat. Cara pembelajaran ini sangat mungkin berbeda dengan kondisi sebelumnya dan bisa jadi praktiknya berbeda pula dengan negara-negara lain yang mulai menerapkan cara tak jauh beda. Sebab situasi teknologi dan sosio-geografis di Indonesia tidak sama dengan negara lain.
Meski demikian kebijakan tatap muka sulit tanpa cela. Untuk meminimalisasinya pemerintah dan otoritas terkait perlu menyiapkan mitigasi yang jelas. Simulasi, monitoring, dan evaluasi juga patut runtut dilakukan agar kebijakan ini benar-benar memberikan kemudahan serta menciptakan pendidikan yang menyenangkan.
(bmm)
Lihat Juga :