Pencalonan Airlangga Hartarto di Pilpres 2024 Patut Diperhitungkan
Selasa, 09 Maret 2021 - 19:36 WIB
Bicara parameter kedua, Adi menjelaskan, maka nama Airlangga cukup rasional untuk diperhitungkan di 2024. Dengan perolehan 12% suara Golkar di Pemilu Legislatif (Pileg) 2019 lalu, tentu praktis bagi Golkar hanya butuh 1 parpol lagi untuk mendaftarkan Airlangga bersama cawapresnya ke KPU. Soal popularitas dan elektabilitas, bisa dimulai kerja politiknya dari sekarang, karena Airlangga kerja-kerja politik untuk pencapresan belum terlihat.
"Tapi ingat bahwa ketika suara Golkar dikonversi menjadi suara Airlangga tentu juga signifikan. Jika misalnya Airlangga dapat 3 atau 4%, sementara suara partai 12%, kalau 12% bisa dikonversi jadi suara itu lebih bagus," urai Adi.
Dengan demikian, Adi menambahkan, secara kalkulasi matematis, Airlangga Hartarto jauh lebih rasional untuk bisa maju di 2024, karena dia saat ini adalah ketua umum partai besar dengan perolehannya 12%, dan saat ini menjabat sebagai Menko Perekonomian yang cukup strategis, ini semua bisa menjadi insentif untuk jalan panjang 2024, memenangkan Pemilu Presiden (Pilpres) sekaligus Pileg.
"Ingat, Pemilu 2024, Pileg dan Pilpres Serentak, partai-partai cenderung ingin memajukan kader sendiri ketimbang mendukung orang lain, karena berharap coattail effect itu, seperti yang terjadi pada PDIP dan Gerindra di Pilpres 2019. Itu yang kemudian membuat parpol mencalonkan Ketumnya seperti Airlangga itu menjadi rasional untuk dicalonkan di 2024. Tujuan utama ingin menang Pilpres, yang kedua tentu mengamankan Pileg dengan coattail effectnya itu. Itu kenapa saya bilang Airlangga rasional dan sangat patut diperhitungkan untuk 2024. Dia Ketum Partai besar kok, 12% dan yang paling penting untuk memaksimalkan coattail effect itu perlu memajukan kadernya sendiri barulah kerja-kerja politik," pungkas Adi. Kiswondari
"Tapi ingat bahwa ketika suara Golkar dikonversi menjadi suara Airlangga tentu juga signifikan. Jika misalnya Airlangga dapat 3 atau 4%, sementara suara partai 12%, kalau 12% bisa dikonversi jadi suara itu lebih bagus," urai Adi.
Dengan demikian, Adi menambahkan, secara kalkulasi matematis, Airlangga Hartarto jauh lebih rasional untuk bisa maju di 2024, karena dia saat ini adalah ketua umum partai besar dengan perolehannya 12%, dan saat ini menjabat sebagai Menko Perekonomian yang cukup strategis, ini semua bisa menjadi insentif untuk jalan panjang 2024, memenangkan Pemilu Presiden (Pilpres) sekaligus Pileg.
"Ingat, Pemilu 2024, Pileg dan Pilpres Serentak, partai-partai cenderung ingin memajukan kader sendiri ketimbang mendukung orang lain, karena berharap coattail effect itu, seperti yang terjadi pada PDIP dan Gerindra di Pilpres 2019. Itu yang kemudian membuat parpol mencalonkan Ketumnya seperti Airlangga itu menjadi rasional untuk dicalonkan di 2024. Tujuan utama ingin menang Pilpres, yang kedua tentu mengamankan Pileg dengan coattail effectnya itu. Itu kenapa saya bilang Airlangga rasional dan sangat patut diperhitungkan untuk 2024. Dia Ketum Partai besar kok, 12% dan yang paling penting untuk memaksimalkan coattail effect itu perlu memajukan kadernya sendiri barulah kerja-kerja politik," pungkas Adi. Kiswondari
(cip)
Lihat Juga :