Soal Isu Periode Ketiga Jokowi, Refly Harun: Kekuasaan Itu Memabukkan

Senin, 08 Maret 2021 - 15:58 WIB
”Thailand mengubah konstitusi pada 1978 setelah terjadi kudeta dan terjadi lagi setelah ada gerakan-gerakan politik. Filipina juga mengubah konstitusi setelah people power yang menjatuhkan Ferdinand Marcos pada 1986,” kata Refly

(Baca:Refly Harun Tak Percaya Moeldoko Caplok Demokrat demi Periode Ketiga Jokowi)

Meskipun begitu, Refly menyadari bahwa kendati Presiden Jokowi telah menyatakan tidak ingin menjadi presiden lagi, hal itu bisa berubah karena nyamannya kekuasaan. Terlebih, fakta menunjukkan bahwa dalam hal popularitas atau top of mind, Presiden Jokowi masih berada di posisi teratas, baru disusul Prabowo Subianto.

Karena itu Refly menyatakan tidak mau meragukan 100 persen analisis motif perubahan konstitusi di balik manuver Kepala Kantor Staf Presiden (KSP) Moeldoko mengambil alih Partai Demokrat.

”Jangan lupa bahwa kekuasaan itu kadang memabukkan. Bahkan ada yang mengatakan kalau Presiden Jokowi mencalonkan diri pada 2024, sangat mungkin akan terpilih kembali,” ujar mantan Komisaris Utama PT Jasa Marga itu.
(muh)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!