Memperkuat Ketahanan Pangan
Senin, 08 Maret 2021 - 06:00 WIB
Sejumlah kalangan juga mengkhawatirkan melonjaknya kebutuhan yang membuat kosongnya pasokan ke pasar mengindikasikan lemahnya ketahanan pangan suatu negara. Padahal belum tentu demikian. Kosongnya stok di rak-rak supermarket juga tidak berarti terjadi kekurangan pangan. Pasalnya bisa jadi hal itu hanya karena terganggunya pasokan akibat permintaan melebihi pasokan.
Berdasarkan indeks Global Food Security Index (GFSI) 2020 yang dikeluarkan oleh The Economist dan Corteva, Indonesia berada di posisi ke-65 dari 113 negara yang dinilai indeks ketahanan pangannya. Adapun urutan teratas diduduki Finlandia dengan skor keseluruhan 85,3%.
Dalam urusan ketahanan pangan, Finlandia mengungguli negara-negara maju baik di Eropa maupun Amerika. Secara keseluruhan Finlandia unggul hampir pada semua indikator seperti program jaminan pangan bagi penduduk, keamanan produk, standar nutrisi, kualitas protein, akses pasar danakses layanan keuangan bagi sektor pertanian hingga urusan dukungan politik ke sektor pertanian.
Dari beberapa faktor tersebut Finlandia menjadi yang terbaik karena poinnya didominasi angka di atas 75 dengan total skor mencapai 85,3. Bahkan ada empat sektor yang nilainya sempurna, 100, yakni program ketahanan pangan bagi masyarakat, jaminan keamanan pangan, standar nutrisi dan kualitas protein bagi masyarakatnya.
Lalu bagaimana dengan Indonesia? Dalam GFSI 2020, skor total indeks ketahanan pangan Indonesia adalah 59,5.Dari sekian banyak indikator yang diteliti, ada beberapa sektor yang masih lemah dalam tata kelola ketahanan pangan kita.Di antaranya akses terhadap layanan keuangan yang masih minim, infrastruktur pertanian yang masih kurang, dan minimnya riset-riset untuk menghasilkan produk pangan unggul.
Di luar itu yang masih menjadi pekerjaan rumah adalah faktor standar nutrisi, pemenuhan kualitas protein, dan keragaman makanan.Yang terakhir ini sungguh ironis karena di negeri ini ada banyak sumber makanan yang bisa dijadikan makanan pokok selain beras. Bahkan setiap daerah memiliki makanan khas tersendiri sebagai sumber karbohidrat sesuai dengan kearifan lokal masing-masing.
Berdasarkan indeks Global Food Security Index (GFSI) 2020 yang dikeluarkan oleh The Economist dan Corteva, Indonesia berada di posisi ke-65 dari 113 negara yang dinilai indeks ketahanan pangannya. Adapun urutan teratas diduduki Finlandia dengan skor keseluruhan 85,3%.
Dalam urusan ketahanan pangan, Finlandia mengungguli negara-negara maju baik di Eropa maupun Amerika. Secara keseluruhan Finlandia unggul hampir pada semua indikator seperti program jaminan pangan bagi penduduk, keamanan produk, standar nutrisi, kualitas protein, akses pasar danakses layanan keuangan bagi sektor pertanian hingga urusan dukungan politik ke sektor pertanian.
Dari beberapa faktor tersebut Finlandia menjadi yang terbaik karena poinnya didominasi angka di atas 75 dengan total skor mencapai 85,3. Bahkan ada empat sektor yang nilainya sempurna, 100, yakni program ketahanan pangan bagi masyarakat, jaminan keamanan pangan, standar nutrisi dan kualitas protein bagi masyarakatnya.
Lalu bagaimana dengan Indonesia? Dalam GFSI 2020, skor total indeks ketahanan pangan Indonesia adalah 59,5.Dari sekian banyak indikator yang diteliti, ada beberapa sektor yang masih lemah dalam tata kelola ketahanan pangan kita.Di antaranya akses terhadap layanan keuangan yang masih minim, infrastruktur pertanian yang masih kurang, dan minimnya riset-riset untuk menghasilkan produk pangan unggul.
Di luar itu yang masih menjadi pekerjaan rumah adalah faktor standar nutrisi, pemenuhan kualitas protein, dan keragaman makanan.Yang terakhir ini sungguh ironis karena di negeri ini ada banyak sumber makanan yang bisa dijadikan makanan pokok selain beras. Bahkan setiap daerah memiliki makanan khas tersendiri sebagai sumber karbohidrat sesuai dengan kearifan lokal masing-masing.
Lihat Juga :