Perempuan Benteng Hadapi Krisis Pandemi

Senin, 08 Maret 2021 - 05:29 WIB
“Memang ini kondisi miris yang terjadi. Namun, tidak bisa dilihat kekerasan itu terjadi dari kelompok tertentu seperti berdasarkan strata ekonomi keluarga. Bisa jadi ada yang lapor karena mungkin tahu akses informasi tempat pengaduan, tapi bisa jadi juga ada yang enggak berani,” terang Erni, kemarin.

Menurut dia, ketahanan keluarga tidak dilihat dari aspek perempuan saja. Kaum lelaki juga harus ikut memahami kondisi tersebut lantaran mereka juga kemungkinan memiliki masalah yang dialami karena pandemi. Lantaran itu, pihaknya berupaya mendorong perlunya membangun komunikasi di dalam keluarga.

“Ada namanya teori social ecological framework. Intinya, menyelesaikan masalah perempuan dan anak itu tidak akan selesai jika yang dibantu hanya mereka saja. Begitu perempuan dan anak diberdayakan, jangan lupa keluarganya juga. Ada suami, mertua, orang tua,” terangnya.

Pandemi tidak dimungkiri telah memukul ekonomi secara global, termasuk para pelaku UMKM di kalangan perempuan. Lantaran itu, Kementerian PPPA menggandeng kementerian/lembaga, perusahaan swasta, kedutaan besar, komunitas, lembaga swadaya masyarakat dengan memberikan pelatihan peningkatan kapasitas bagi para perempuan di beberapa daerah, terutama pelaku usaha yang terdampak. Salah satunya yakni pelatihan mengembangkan usaha melalui digital.

Beban Nakes Perempuan

Salah satu profesi yang sangat mengandalkan jasa perempuan di masa pandemi ini adalah tenaga kesehatan (nakes) khususnya perawat. Ketua Satgas Penanganan Covid-19 Doni Monardo beberapa waktu lalu menyebut jumlah perawat perempuan di Indonesia mencapai 70%.

Data Kementerian Kesehatan 2019 menunjukkan jumlah nakes mulai dokter, perawat, dan bidan yang ada di fasilitas kesehatan didominasi perempuan. Sebanyak 509.578 (78%) dari total 652.468 dari perawat, bidan, dokter umum, dokter gigi, dan spesialis merupakan perempuan. Persentase data ini juga memberikan gambaran yang sama terhadap jumlah nakes yang bertugas menangani Covid-19.

Beban nakes perempuan makin berlipat di masa pandemi karena selain mengurus rumah tangga, mendampingi anak belajar, juga harus berhadapan dengan pasien yang meningkatkan risiko dirinya tertular virus.

Ketua Tim Mitigasi Pengurus Besar Ikatan Dokter Indoensia (PB IDI) Adib Khumaidi mengatakan, tenaga medis dan nakes perempuan memiliki peran ganda selama pandemi virus korona, karena harus menangani pasien dan mengedukasi lingkungan sekitar.

“Para nakes perempuan juga mempunyai tanggung jawab di rumah, artinya juga memberikan risiko pada keluarga. Banyak kondisi dilematis yang dialami para nakes perempuan antara pekerjaan dan keluarga,” ujarnya, kemarin.

Dalam kondisi sulit ini, kata Adib, perhatian dan dukungan mental menjadi hal yang sangat dibutuhkan tenaga medis dan nakes. Para tenaga medis dan nakes sudah berjibaku selama satu tahun pandemi sehingga mulai kelelahan fisik dan mental.

“Tapi karena menjalankan kewajiban profesi dan tanggung jawab kepada negara dan rakyat maka mereka tetap bekerja melayani masyarakat,” ujarnya.

Dia mengapresiasi perhatian negara yang sudah memberikan insentif dan santunan kepada nakes. hal tersebut diakui bisa mamcu semangat untuk terus bekerja menjalankan tugas.
(ynt)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!