Halau Perempuan dari Pengaruh Konservatisme-Radikalisme

Senin, 01 Maret 2021 - 12:32 WIB
Oleh karena itu ketika mempunyai paham yang salah atau keliru, itu sangat berbahaya untuk keluarganya. Karena perempuan sangat didengar.

Octy merujuk penelitian yang dirilis Universitas Cambridge, Inggris, pada Senin 22 Februari 2021, individu berpandangan ekstrem kesulitan menjalankan tugas psikologis yang rumit.

Studi tersebut menyimpulkan, gabungan karakter individu dan kemampuan kognitif, yakni bagaimana otak manusia mencerna informasi, bisa "memprediksi" pandangan ekstrem di lintas ideologi, termasuk nasionalisme atau agama. Karakter psikologis ini mencakup daya ingat yang rendah, dan kemampuan mencerna perubahan warna atau bentuk yang lambat.

"Individu yang memiliki sikap konservatisme politik yang ekstrem, atau individu berpandangan kaku dan hanya melihat dunia dengan hitam putih yang sulit diubah, juga ditengarai memiliki pengaruh mendorong individu ke dalam spektrum radikalisme," tuturnya.

Menurut dia, kaum perempuan sejatinya memiliki kekuatan natural untuk menarasikan kedamaian dan kelembutan, yang dapat memitigasi kekerasan di sekitarnya. Terlebih di Indonesia yang sangat besar potensinya, untuk perkembangan paham radikalisme.

"Upaya kontra narasi ayat-ayat Alquran di kalangan perampuan bisa menjadi pilihan sistematis bagi pemerintah dan kelompok Islam moderat dalam menghambat laju epidemi teologi maut terhadap kelompok rentan seperti perampuan. Pengamalan dan kampanye nilai dasar Islam washatiyah wajib menjadi narasi pokok dalam pengarus-utamaan diskursus Islam rahmatan lil’alamin," tuturnya.
(dam)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!