Wasekjen Golkar Sebut Pengkritik Kartu Prakerja Tak Paham Kesulitan Rakyat

Senin, 18 Mei 2020 - 13:03 WIB
Pemerintah menurut Agung, juga melihat realitas di lapangan bahwa sebagian besar masyarakat terdampak pandemi Covid-19 atau virus Corona ini mengalami Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) atau dirumahkan. Hal ini membuat program yang merupakan realisasi dari janji kampanye Presiden Joko Widodo tersebut perlu menyesuaikan dengan kondisi pandemi.

"Kartu Prakerja ini kan sudah dimodifikasi, awalnya diprioritaskan untuk angkatan kerja muda. Tapi karena pandemi Covid, prioritasnya menjadi pekerja maupun pelaku usaha mikro dan kecil yang terdampak. Skema pelatihannya harus tetap ada, karena ini bekal untuk mereka setelah pandemi," kata legislator dari Daerah Pemilihan Jawa Tengah IX itu.

Kritik terkait skema pelatihan online yang dianggap tidak efektif, Agung menjelaskan bahwa ini merupakan modifikasi dari konsep awal supaya tidak menghilangkan esensi pembekalan skill kepada penerima Kartu Prakerja. "Pelaksanaan pelatihan secara online ini kan sementara saja karena memang keadaan darurat Covid-19," kata Agung.

Lagipula, jika dikatakan masyarakat lebih membutuhkan bantuan langsung, pemerintah juga sudah banyak sekali mengeluarkan skema bantuan langsung mulai dari Program Keluarga Harapan (PKH), Program Bantuan Sembako, subsidi listri, Bansos Tunai, dan Bansos khusus Jabodetabek. Program Kartu Prakerja yang kini sifatnya semi bansos, memang diprioritaskan untuk mereka yang kehilangan pekerjaan.

Soal tidak adanya proses lelang untuk platform digital yang dipilih, Agung melihat memang tidak diperlukan adanya lelang karena platform digital ini bukan penyelenggara pelatihan daring. Melainkan hanya jadi penghubung antara peserta dengan penyedia kursus yang telah bergabung secara Business to Business (B2B) dengan platform digital tersebut.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!