Rafsanjani dan Gagasan Bersama Menggerakkan Indonesia
Kamis, 11 Februari 2021 - 18:00 WIB
Kongres XX Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PB PMII) akan digelar pada Maret 2021 mendatang di Balikpapan. Salah satu calon ketua umum yang maju adalah Muhammad Rafsanjani. Foto/Istimewa
JAKARTA - Kongres XX Pengurus Besar Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia ( PB PMII ) akan digelar pada Maret 2021 mendatang di Balikpapan. Salah satu calon ketua umum yang maju adalah Muhammad Rafsanjani. Bersama Menggerakkan Indonesia menjadi naskah gagasan Muhammad Rafsanjani dalam pencalonannya sebagai Calon Ketua Umum PB PMII.
Sebuah ajakan Rafsan kepada seluruh anak muda dan seluruh kader PMII di Indonesia agar bersama-sama, bertekad, menjadi generasi penggerak Indonesia. Dirinya percaya bahwa ini adalah era kita semua, era di mana kita mampu bersama-sama menggerakkan Indonesia. Adapun naskah Bersama Menggerakkan Indonesia itu dia tulis dengan semangat daya juang kolektif, serta harapan atas kolaborasi dari para anak muda. Baca juga: Gus Jazil: Kader PMII Harus Punya Akar Kuat agar Tak Mudah Tumbang
Pria kelahiran Garut pada 30 Maret 1992 itu adalah putra dari pasangan Dr KH Cecep Alba, pimpinan pondok pesantren tertua di Limbangan dan Rd Mimin Nurganiah Maulani. Rafsan pergi merantau ke tanah Ciputat pasca menyelesaikan studinya di Pondok Pesantren Pulosari, Limbangan.
Dia melanjutkan studi di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta di Ciputat, Tangerang Selatan, Banten. Tempaan selama di pondok pesantren membuat Rafsan menjadi sosok yang senantiasa membumi lewat kata dan perangainya.
Corak kehidupan agamis yang menjadi lingkungan akrab seorang Rafsanjani tidak membuat dirinya membatasi buku-buku dan bacaan atas luasnya ilmu pengetahuan, membuat Rafsan sangat menghindari pandangan tunggal soal kebenaran.
Bagi Rafsan, tiap-tiap ruang akademik adalah bebas nilai dan setiap manusia berhak mengkonsumsi berbagai jenis bangunan keilmuan. Hal itu yang membuat Rafsan menjadi begitu lahap dalam membaca, mulai dari bacaan politik, filsafat, sejarah, agama sampai bacaan soal psikologi.
Rafsan, intelektual yang menekankan bahwa inklusifitas harus hadir sejak dalam pikiran. Sebagai seorang akademisi sekaligus aktivis, dia konsisten dalam memberikan sumbangsih pemikirannya terhadap Indonesia.
Sebuah ajakan Rafsan kepada seluruh anak muda dan seluruh kader PMII di Indonesia agar bersama-sama, bertekad, menjadi generasi penggerak Indonesia. Dirinya percaya bahwa ini adalah era kita semua, era di mana kita mampu bersama-sama menggerakkan Indonesia. Adapun naskah Bersama Menggerakkan Indonesia itu dia tulis dengan semangat daya juang kolektif, serta harapan atas kolaborasi dari para anak muda. Baca juga: Gus Jazil: Kader PMII Harus Punya Akar Kuat agar Tak Mudah Tumbang
Pria kelahiran Garut pada 30 Maret 1992 itu adalah putra dari pasangan Dr KH Cecep Alba, pimpinan pondok pesantren tertua di Limbangan dan Rd Mimin Nurganiah Maulani. Rafsan pergi merantau ke tanah Ciputat pasca menyelesaikan studinya di Pondok Pesantren Pulosari, Limbangan.
Dia melanjutkan studi di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta di Ciputat, Tangerang Selatan, Banten. Tempaan selama di pondok pesantren membuat Rafsan menjadi sosok yang senantiasa membumi lewat kata dan perangainya.
Corak kehidupan agamis yang menjadi lingkungan akrab seorang Rafsanjani tidak membuat dirinya membatasi buku-buku dan bacaan atas luasnya ilmu pengetahuan, membuat Rafsan sangat menghindari pandangan tunggal soal kebenaran.
Bagi Rafsan, tiap-tiap ruang akademik adalah bebas nilai dan setiap manusia berhak mengkonsumsi berbagai jenis bangunan keilmuan. Hal itu yang membuat Rafsan menjadi begitu lahap dalam membaca, mulai dari bacaan politik, filsafat, sejarah, agama sampai bacaan soal psikologi.
Rafsan, intelektual yang menekankan bahwa inklusifitas harus hadir sejak dalam pikiran. Sebagai seorang akademisi sekaligus aktivis, dia konsisten dalam memberikan sumbangsih pemikirannya terhadap Indonesia.
Lihat Juga :