China Masih Dominasi Urusan Dagang Indonesia

Rabu, 20 Januari 2021 - 04:45 WIB
Menarik dicermati adalah kinerja impor pada Desember 2020 meningkat dibandingkan periode November 2020. Nilai impor tercatat USD14,44 miliar atau tumbuh 14% dibandingkan bulan sebelumnya. Akan tetapi terjadi penurunan apabila dibandingkan periode yang sama pada Desember 2019. Secara bulanan, berdasarkan data BPS tercatat impor minyak dan gas (migas) naik sekitar 36,57% menjadi USD 1,48 miliar, sedang impor nonmigas bergerak naik 1,89% menjadi USD 12,96%. Kinerja impor yang meningkat tidak terlepas dari penggunaan barang, seperti impor barang konsumsi, bahan baku serta barang modal yang juga mengalami pertumbuhan. Di antaranya, bawang putih, mesin AC dan buah-buahan yang didominasi dari China.

Pihak BPS membeberkan terjadinya surplus pada NPI tidak terlepas dari harga komoditas yang mulai mebaik, seperti lemak dan minyak hewan nabati, bahan bakar mineral, serta besi dan baja. Adapun kinerja ekspor pada Desember 2020, pihak BPS menyebut cukup menggembirakan karena meraih nilai tertinggi sepanjang 2020. Padahal, pada akhir tahun (Desember) baik kinerja ekspor maupun kinerja impor mengalami penurunan dikarenakan banyak hari libur. Hal itu, adalah sebuah tanda-tanda positif kalau kinerja ekspor bakal semakin membaik seiring dengan penanganan atau pemberian vaksin dan pemberlakuan protokol kesehatan yang benar dalam menghadapi pandemi Covid-19.

Meski NPI mencatat surplus sepanjang tahun lalu dan bahkan tertinggi dalam sembilan tahun terakhir ini, namun belum bisa dijadikan patokan bahwa ekonomi Indonesia sudah mulai sembuh. Memang, kinerja ekspor perlahan mulai membaik namun penurunan nilai impor juga harus dibaca bahwa masih ada masalah, di antaranya belum pulihnya sektor manufaktur. Namun, apa pun yang terjadi, kita berharap, pelan tapi pasti pemerintah bisa memutar roda perekonomian lebih kencang lagi.
(bmm)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!