Jadikan Putri Ma'ruf Amin sebagai Wasekjen, Bukti Demokrat Rangkul NU
Jum'at, 17 April 2020 - 08:26 WIB
Ketua Umum Partai Demokrat Agus Harimurti Yudhoyono (AHY). Foto/Dok SINDOnews
JAKARTA - Direktur Eksekutif Indonesia Public Institut (IPI) Karyono Wibowo menilai tentu ada tujuan Partai Demokrat menjadikan Siti Nur Azizah menjadi salah satu wasekjen. Boleh jadi, hal itu merupakan strategi untuk menjalin hubungan dengan Nahdlatul Ulama (NU) dan tentu saja menjalin hubungan baik dengan Wapres Kiai Ma'ruf Amin, ayah Siti Nur Azizah.
Karyono menyebut, posisi Azizah yang bertengger di deretan elite partai bisa menjadi simbol atau ikon politik di Demokrat. "Azizah yang kini menjadi kandidat Wali Kota Tangerang Selatan itu menjadi salah satu ikon politik yang bisa menjadi narasi bahwa Demokrat merangkul NU," ujar Karyono, Jumat (17/4/2020).
Lanjut Karyono, selain membangun relasi personal tentu saja ada target untuk menggaet ceruk pemilih di kalangan nahdliyin yang jumlahnya diklaim sekitar 90 jutaan. Maka wajar jika Demokrat dan sejumlah partai mengakomodir tokoh-tokoh NU untuk menjadi 'vote getter' atau pengepul suara pemilih.
Ia menilai, dalam dinamika kontestasi pemilu di Indonesia, khususnya sejak NU tidak lagi menjadi partai politik, organisasi massa Islam terbesar itu bagaikan 'putri cantik' yang menjadi rebutan karena memiliki daya pikat luar biasa. Maka, NU selalu masuk dalam pusaran politik nasional karena memiliki magnet politik yang kuat. "Tak terkecuali Demokrat, yang telah terpikat dengan NU," tuturnya. (Baca juga: Demokrat Terlihat Ingin Mempersiapkan Pasukan Tempur yang Lebih Fresh ).
Karyono menyebut, posisi Azizah yang bertengger di deretan elite partai bisa menjadi simbol atau ikon politik di Demokrat. "Azizah yang kini menjadi kandidat Wali Kota Tangerang Selatan itu menjadi salah satu ikon politik yang bisa menjadi narasi bahwa Demokrat merangkul NU," ujar Karyono, Jumat (17/4/2020).
Lanjut Karyono, selain membangun relasi personal tentu saja ada target untuk menggaet ceruk pemilih di kalangan nahdliyin yang jumlahnya diklaim sekitar 90 jutaan. Maka wajar jika Demokrat dan sejumlah partai mengakomodir tokoh-tokoh NU untuk menjadi 'vote getter' atau pengepul suara pemilih.
Ia menilai, dalam dinamika kontestasi pemilu di Indonesia, khususnya sejak NU tidak lagi menjadi partai politik, organisasi massa Islam terbesar itu bagaikan 'putri cantik' yang menjadi rebutan karena memiliki daya pikat luar biasa. Maka, NU selalu masuk dalam pusaran politik nasional karena memiliki magnet politik yang kuat. "Tak terkecuali Demokrat, yang telah terpikat dengan NU," tuturnya. (Baca juga: Demokrat Terlihat Ingin Mempersiapkan Pasukan Tempur yang Lebih Fresh ).
Lihat Juga :