3M dan Vaksinasi Mesti Berjalan Seiring

Jum'at, 11 Desember 2020 - 07:15 WIB
“Untuk vaksin, mari kita bersiap menyambut vaksinasi sebagai salah satu bentuk proteksi spesifik agar tidak tertular Covid-19 . Tapi, proses mendapatkan vaksin masih membutuhkan waktu karena itu menjaga 3M itu bukan lagi pilihan, tapi keharusan di situasi pandemi seperti ini. Bahkan, khusus untuk cuci tangan tidak boleh lepas, tidak ada Covid-19 pun kita harus terus cuci tangan,” ujarnya.

Seorang penyintas Covid-19, Abi Satria, menceritakan penderitaannya saat terpapar Covid-19 yang menjadi kerugian secara fisik dan mental. Kondisi fisiknya di hari keenam dirawat di Wisma Atlet, Kemayoran, Jakarta, tubuh menggigil karena demam, meski AC sudah dimatikan. Setelah sembuh dari Covid-19, kondisi fisiknya membaik, tapi secara mental masih kurang stabil. (Baca juga: Ampuh Tingkatkan Imunitas, Bagaimana Vaksin Bekerja?)

“Aku masih takut keluar dan muncul di depan publik. Setelah aku konsultasikan, ternyata memang itu dampak psikologis. Jadi bukan hanya terdampak pada fisik, tapi juga mental,” tuturnya pada kesempatan yang sama.

Abi Satria juga mengatakan, siapa saja bisa tertular Covid-19 , di mana saja dan kapan saja. Bisa jadi tertular dari benda-benda di sekitar kita. Dia menyesalkan sebagian masyarakat yang menganggap Covid-19 hanya konspirasi. Dia meyakinkan, Covid-19 itu nyata dan berbahaya. Karena itu, Abi Satria mengimbau kepada masyarakat untuk tetap disiplin menjalankan 3M.

“Untuk semua masyarakat yang masih abai dengan 3M, tolong jangan egois karena kita tidak pernah tahu kapan bertemu orang yang imunitasnya sedang rentan. Kita tidak pernah sadar bahwa kita membawa virus kepada yang lebih tua atau muda. Jadi, jangan egois dan patuhi protokol 3M,” pesannya.

Pengidap Penyakit Tidak Menular Paling Rentan

Sementara itu, Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Kementerian Kesehatan (Kemenkes) Cut Putri Arianie mengingatkan bahwa semua orang yang mengidap penyakit tidak menular (PTM) meliputi penyakit hipertensi, diabetes, penyakit jantung, stroke, kanker, gagal ginjal, asma, talasemia, dan sebagainya untuk meningkatkan kewaspadaan guna mencegah penularan Covid-19 . Di masa pandemi, penyakit ini menjadi pembunuh terbesar dan pembiayaan kesehatan tertinggi. (Baca juga: AI Bantu Ilmuwan Memahami Aktivitas Otak Saat Berpikir)

“Penyakit ini kita ketahui disebabkan oleh metabolik, gangguan lingkungan dan perilaku individu. Di masa pandemi juga penyakit ini menjadi komorbid atau penyakit penyerta Covid-19 dengan kematian yang cukup tinggi. Penyakit tidak menular ini sering juga disebut sebagai the silent killer,” ungkapnya pada webinar kesehatan perempuan Indonesia ”Cerdik Keluarga Sehat, Cegah Penyakit Tidak Menular Cegah Komorbid Covid-19” kemarin.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!