Hanya Butuh 9 Bulan, Covid Menginfeksi Setengah Juta Warga Indonesia
Selasa, 24 November 2020 - 10:07 WIB
Kemampuan pemerintah mendeteksi orang yang terjangkit virus dinilai masih perlu diperbaiki. “Saya 15 tahun mengelola data kesehatan, pernah menangani kasus flu burung pada 2006 hingga 2009. Masalah kita sejak dulu itu data yang bervariasi, banyak hilang,” ujarnya kepada SINDONews, Senin 23 November 2020.(Baca juga: Imbas Pandemi Covid-19, Biaya Umrah dan Haji Plus Diprediksi Naik 30% )
Kemampuan Indonesia melakukan tes disebutnya juga masih perlu diperbaiki. Jumlah tes masih di bawah indikator WHO yang mensyaratkan konsisten di atas 1/1000 penduduk per minggu. “Kita harusnya selalu di atas 38.000 per hari dan mempertimbangkan kontribusi wilayah. Selama ini hanya tes DKI yang tinggi, angkanya di atas standar WHO,” katanya.
Karena pengetesan minim, Kamaluddin menyangsikan jumlah kasus positif Covid-19 di Indonesia hanya 500.000. “Saya menduga itu bukan angka sebenarnya. Jumlah setengah juta itu kecil, bisa jauh lebih besar. Saya tidak bisa pastikan selisihnya, tapi itu jauh dari kenyataan di lapangan,” katanya.(Baca juga: KPU Diminta Siapkan Langkah Darurat Penyebaran Covid-19 Usai Pencoblosan )
Kamaluddin menyebut, pemerintah sejauh ini belum punya cara kerja atau sistem yang bersifat hulu, masih lebih banyak di hilir. Dia mencontohkan sistem yang disebutnya belum berjalan baik itu.
“Misalnya ketika ada pelaporan dari sistem surveillance bahwa ada orang yang positif. Pasti kan dilacak dengan siapa dia kontak, di-tracing, lalu dilakukan tes. Namun, banyak penolakan di lapangan. Orang takut dites. Mengapa ada yang menolak? Karena di lapangan kita belum punya sistem bagus,” paparnya.
Kemampuan Indonesia melakukan tes disebutnya juga masih perlu diperbaiki. Jumlah tes masih di bawah indikator WHO yang mensyaratkan konsisten di atas 1/1000 penduduk per minggu. “Kita harusnya selalu di atas 38.000 per hari dan mempertimbangkan kontribusi wilayah. Selama ini hanya tes DKI yang tinggi, angkanya di atas standar WHO,” katanya.
Karena pengetesan minim, Kamaluddin menyangsikan jumlah kasus positif Covid-19 di Indonesia hanya 500.000. “Saya menduga itu bukan angka sebenarnya. Jumlah setengah juta itu kecil, bisa jauh lebih besar. Saya tidak bisa pastikan selisihnya, tapi itu jauh dari kenyataan di lapangan,” katanya.(Baca juga: KPU Diminta Siapkan Langkah Darurat Penyebaran Covid-19 Usai Pencoblosan )
Kamaluddin menyebut, pemerintah sejauh ini belum punya cara kerja atau sistem yang bersifat hulu, masih lebih banyak di hilir. Dia mencontohkan sistem yang disebutnya belum berjalan baik itu.
“Misalnya ketika ada pelaporan dari sistem surveillance bahwa ada orang yang positif. Pasti kan dilacak dengan siapa dia kontak, di-tracing, lalu dilakukan tes. Namun, banyak penolakan di lapangan. Orang takut dites. Mengapa ada yang menolak? Karena di lapangan kita belum punya sistem bagus,” paparnya.
Lihat Juga :