Pendidikan, Pandemi, dan Revolusi 4.0

Jum'at, 13 November 2020 - 05:40 WIB
Pada era ini peran tenaga kerja manusia tidak lagi dominan karena kerja-kerja teknis bisa digantikan oleh mesin-mesin robotik dan teknologi kecerdasan buatan yang mampu bekerja lebih cepat dengan hasil yang lebih baik dalam kuantitas maupun kualitas. Dengan begitu beberapa jenis pekerjaan dan produksi berkurang atau bahkan menghilang. Karena itu era Revolusi 4.0 disebut juga dengan era disrupsi. Kehadiran buku cetak sudah tergantikan oleh keberadaan buku elektronik (e-book). Sumber pengetahuan informatif tergantikan oleh mesin pencarian Google.

Aneka disrupsi ini, mau tidak mau, menuntut pembaruan di berbagai aspek dunia pendidikan dan pengajaran. Misalnya kalau semua informasi telah bisa dijawab oleh mesin pencarian Google, lantas apa masih dibutuhkan kehadiran seorang guru? Akankah profesi guru termasuk yang bakal terkena disrupsi? Tentu saja secanggih apa pun teknologi, peran manusia sebagai makhluk Tuhan tetap tidak bisa tergantikan. Perihal teknis pengajaran mungkin saja bisa memanfaatkan kecanggihan teknologi, tetapi tugas mendidik manusia tentu saja tetap membutuhkan manusia pendidik. Manusia pendidik itulah potret guru yang sebenarnya.

Revolusi Industri 4.0 memang selayaknya direspons secara positif oleh semua pemangku kepentingan di sektor pendidikan. Karena itu, sebagai komponen inti penggerak dunia pendidikan, guru memiliki peran sentral di dalam meniti perubahan ini.

Seorang guru harus memiliki kemampuan mendidik agar para siswa berkembang secara maksimal pada dua kemampuan sekaligus, yaitu soft-skill (keterampilan lunak) dan hard-skill (keterampilan keras). Kemampuan soft-skill meliputi potensi yang bersifat mentalitas seperti beriman dan bertakwa, berakhlak mulia. Adapun kemampuan hard-skill merupakan keterampilan teknis, keterampilan yang teruji dan terukur secara fisik, yang dibutuhkan oleh dunia kerja untuk mendukung pengembangan dua potensi siswa tersebut dan menjawab tantangan.

Pertama, keterampilan critical thinking and problem solving (berpikir kritis dan mampu menyelesaikan masalah). Di dunia virtual, semua data tergelar dengan bebas dan dalam volume yang sangat besar (big data). Big data ini ibarat rimba raya yang sangat luas, siapa pun bisa tersesat di dalamnya. Data valid dan rumor berbaur menjadi satu. Keterampilan berpikir kritis dalam hal ini sangat diperlukan agar guru bisa membimbing siswa sehingga mampu memverifikasi, menganalisis, melakukan sintesis, dan sebagainya. Dengan demikian siswa bisa membedakan mana informasi yang faktual dan mana hoaks?

Kedua, keterampilan collaboration and communication (bekerja sama dan berkomunikasi). Kolaborasi dan komunikasi merupakan keterampilan yang sangat penting di Revolusi Industri 4.0. Penemuan di bidang teknologi informasi yang masif telah memutus batas-batas geografis. Dunia bagai kampung besar (global village). Kerja sama antarpihak semakin mudah, tetapi sekaligus kompleks. Dengan demikian guru harus mampu membekali diri dengan kedua kemampuan ini guna selanjutnya membekali siswa dengan kemampuan serupa.
Halaman :
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!