Jadi Agen Perubahan, Kemkominfo Minta Milenial Tunjukkan Peran di Pilkada 2020

Selasa, 10 November 2020 - 21:20 WIB
Internet maupun medsos, lanjut dia,mampu memengaruhi pikiran manusia (opini) secara massal, dalam waktu singkat, dengan biaya yang murah dan sulit dilacak. Meski demikian, hal tersebut sekaligus menjadi ancaman, berupa provokasi, agitasi atau pun propaganda. Ada banyak cara yang dilakukan pemerintah dalam menangani ancaman di medsos tersebut, mulai dari penegakkan hukum sampai edukasi publik. Literasi digital berupa edukasi dan pemberian wawasan kepada masyarakat terkait pemanfaatan internet dan medsos. “Milenial harus melawan hoaks. Mahasiswa bisa menjadi direktur medianya sendiri. Mahasiswa adalah bagian dari masyarakat yang bisa memproduksi konten, mengonsumsi, dan mendistribusinya,” kata Widodo. (Baca juga: Megawati Sarankan Milenial Renungi Makam Pahlawan Anonim)

Seminar Daring Memilih Pemimpin Ideal di Mata Milenial juga menghadirkan Peneliti Perludem Bidang Partisipasi Kaum Muda dan Teknologi Pemilu Nurul Amelia dan Akademisi UIN Syarif Hidayatullah Ismail Cawidu. Menurut Nurul, ada beberapa pandangan milenial tentang pemimpin yang ideal. Antara lain, milenial cenderung menolak pemimpin tunggal, anti pemimpin yang berlatar belakang kasus korupsi dan kekerasan seksual. “Milenial suka pemimpin yang komunikatif di medsos,” katanya.

Senada dengannya, dalam kaitan dunia medsos, Ismail Cawi berpendapat bukan alasan lagi bagi milenial untuk tidak mengenal calon kepala daerah. “Itu alasan kuno, karena sekarang dengan mudah kita bisa mencari tahu siapa calon yang akan dipilih melalui medos,” ujarnya.
(cip)
Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga!