Pendidikan Berbasis Masyarakat
Jum'at, 23 Oktober 2020 - 05:41 WIB
Ade Mulyono
Ade Mulyono
Pemerhati Pendidikan
"Education is a form of intervention in the world"- Paulo Freire
BAGAIMANA masa depan pendidikan di tengah intaian pandemi Covid-19? Tidak bisa dimungkiri penyebaran virus korona (Covid-19) memaksa dunia pendidikan harus berpikir keras mencari metode yang tepat untuk memastikan aktivitas pembelajaran terus bergulir. Lebih dari itu, memastikan proses pembelajaran dilakukan atas dasar humanisasi, bukan malah sebaliknya: dehumanisasi. Namun demikian, pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau belajar dari rumah dengan mekanisme daring--dengan segala kekurangannya--menjadi pilihan tunggal yang diinstruksikan pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).
Dari situ berbagai persoalan muncul silih berganti, dari yang teknis hingga nonteknis. Mulai dari minimnya infrastruktur digital hingga ketidakmampuan peserta didik, orang tua, dan guru mengimplementasikan belajar dari rumah dengan mekanisme daring. Perlu diketahui, pembelajaran berbasis daring bukanlah pendidikan arus utama yang kita kenali dalam sistem pendidikan dewasa ini. Konsekuensinya, pembelajaran dengan mekanisme daring memakan korban--terutama dari keluarga kelas sosial bawah yang babak belur dipaksa menerima penyeragaman (uniformitas) dalam pembelajaran.
Sebab, pendidikan dengan model daring dalam praktiknya masih layaknya belajar di kelas-kelas sekolah. Antara peserta didik dan guru yang dipertemukan di depan layar--di dunia kedua, hanyalah teknisnya. Dalam praktiknya peserta didik masih terbelenggu oleh kurikulum; aturan, penilaian, pengawasan, dan penyeragaman. Pendeknya, pendidikan jarak jauh hanya memindahkan kelas-kelas sekolah ke dalam rumah peserta didik. Pertanyaannya mengapa sistem pendidikan masih mekanistis dan sentralistik di tengah kepungan pandemi?
Pemerhati Pendidikan
"Education is a form of intervention in the world"- Paulo Freire
BAGAIMANA masa depan pendidikan di tengah intaian pandemi Covid-19? Tidak bisa dimungkiri penyebaran virus korona (Covid-19) memaksa dunia pendidikan harus berpikir keras mencari metode yang tepat untuk memastikan aktivitas pembelajaran terus bergulir. Lebih dari itu, memastikan proses pembelajaran dilakukan atas dasar humanisasi, bukan malah sebaliknya: dehumanisasi. Namun demikian, pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau belajar dari rumah dengan mekanisme daring--dengan segala kekurangannya--menjadi pilihan tunggal yang diinstruksikan pemerintah dalam hal ini Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).
Dari situ berbagai persoalan muncul silih berganti, dari yang teknis hingga nonteknis. Mulai dari minimnya infrastruktur digital hingga ketidakmampuan peserta didik, orang tua, dan guru mengimplementasikan belajar dari rumah dengan mekanisme daring. Perlu diketahui, pembelajaran berbasis daring bukanlah pendidikan arus utama yang kita kenali dalam sistem pendidikan dewasa ini. Konsekuensinya, pembelajaran dengan mekanisme daring memakan korban--terutama dari keluarga kelas sosial bawah yang babak belur dipaksa menerima penyeragaman (uniformitas) dalam pembelajaran.
Sebab, pendidikan dengan model daring dalam praktiknya masih layaknya belajar di kelas-kelas sekolah. Antara peserta didik dan guru yang dipertemukan di depan layar--di dunia kedua, hanyalah teknisnya. Dalam praktiknya peserta didik masih terbelenggu oleh kurikulum; aturan, penilaian, pengawasan, dan penyeragaman. Pendeknya, pendidikan jarak jauh hanya memindahkan kelas-kelas sekolah ke dalam rumah peserta didik. Pertanyaannya mengapa sistem pendidikan masih mekanistis dan sentralistik di tengah kepungan pandemi?
Lihat Juga :